Oleh: Prof. Dr. Achmad Fedyani Saifuddin, Guru Besar Antropologi FISIP UI
Semenjak reformasi dicanangkan pada tahun 1998 di Indonesia—jika kita menggunakan angka tahun itu sebagai titik
tolak—isu-isu politik kebudayaan mengemuka dan berkembang cepat. Salah satunya adalah isu multikulturalisme yang
dipandang (diduga) dapat menjadi perekat baru integrasi bangsa.
Integrasi nasional yang selama ini dibangun berdasarkan politik kebudayaan seragam dianggap tidak lagi relevan dengan
kondisi dan semangat demokrasi global yang juga meningkat sejalan dengan reformasi tersebut. Desentralisasi
kekuasaan dalam bentuk otonomi daerah semenjak 1999 adalah jawaban bagi tuntutan demokrasi tersebut. Namun,
desentralisasi sebagai keputusan politik nasional ternyata kemudian disadari tidak begitu produktif apabila dilihat dari
kacamata integrasi nasional suatu bangsa besar yang isinya luar biasa beraneka ragam suku bangsa, agama, kondisi
geografi, kemampuan ekonomi, dan bahkan ras.
Di masa lalu, kekuatan pengikat keanekaragaman itu adalah politik sentralisasi yang berpusat pada kekuasaan
pemerintah yang otoritarian. Pada masa kini apabila konsepsi multikulturalisme itu digarap lebih jauh, selain dari
keanekaragaman di atas, juga persoalan mayoritas-minoritas, dominan-tidak dominan yang juga mengandung
kompleksitas persoalan.
Masalah model
Mengikuti Bikhu Parekh (2001) Rethinking Multiculturalism, Harvard University Press, bahwa istilah multikulturalisme
mengandung tiga komponen, yakni terkait dengan kebudayaan, konsep ini merujuk kepada pluralitas kebudayaan, dan
cara tertentu untuk merespons pluralitas itu. Oleh karena itu, multikulturalisme bukanlah doktrin politik pragmatik
melainkan sebagai cara pandang kehidupan manusia. Karena hampir semua negara di dunia tersusun dari anekaragam
kebudayaan—artinya perbedaan menjadi asasnya—dan gerakan manusia dari satu tempat ke tempat lain di muka bumi
semakin intensif, maka multikulturalisme itu harus diterjemahkan ke dalam kebijakan multikultural sebagai politik
pengelolaan perbedaan kebudayaan warga negara. Namun, yang masih menjadi pertanyaan besar, model kebijakan
multikultural seperti apa yang dapat dikembangkan oleh suatu negara seperti Indonesia?
Kita mengenal paling tidak tiga model kebijakan multikultural negara untuk menghadapi persoalan di atas: Pertama,
model yang mengedepankan nasionalitas. Nasionalitas adalah sosok baru yang dibangun bersama tanpa
memperhatikan aneka ragam suku bangsa, agama, dan bahasa, dan nasionalitas bekerja sebagai perekat integrasi.
Dalam kebijakan ini setiap orang—bukan kolektif—berhak untuk dilindungi negara sebagai warga negara. Model ini
dipandang sebagai penghancur akar kebudayaan etnik yang menjadi dasar pembentukan negara dan menjadikannya
sebagai masa lampau saja. Model kebijakan multikultural ini dikhawatirkan terjerumus ke dalam kekuasaan otoritarian
karena kekuasaan untuk menentukan unsur-unsur integrasi nasional berada di tangan suatu kelompok elite tertentu.
Kedua, model nasionalitas-etnik yang berdasarkan kesadaran kolektif etnik yang kuat yang landasannya adalah hubungan
darah dan kekerabatan dengan para pendiri nasional (founders). Selain itu, kesatuan bahasa juga merupakan ciri
nasional-etnik ini. Model ini dianggap sebagai model tertutup karena orang luar yang tidak memiliki sangkut paut
hubungan darah dengan etnis pendiri nasional akan tersingkir dan diperlakukan sebagai orang asing.
Ketiga, model multikultural- etnik yang mengakui eksistensi dan hak-hak warga etnik secara kolektif. Dalam model ini,
keanekaragaman menjadi realitas yang harus diakui dan diakomodasi negara, dan identitas dan asal-usul warga negara
diperhatikan. Isu-isu yang muncul karena penerapan kebijakan ini tidak hanya keanekaragaman kolektif dan etnik, tetapi
juga isu mayoritas-minoritas, dominan-tidak dominan. Persoalannya menjadi lebih kompleks lagi karena ternyata
mayoritas tidak selalu berarti dominan, karena berbagai kasus menunjukkan bahwa minoritas justru dominan dalam
ekonomi. Jika kekuasaan negara lemah karena prioritas kekuasaan dilimpahkan ke aneka ragam kolektif sebagai
konsekuensi pengakuan negara, negara mungkin diramaikan konflik- konflik internal berkepanjangan yang pada
gilirannya akan melemahkan negara itu sendiri.
Multikulturalisme
Buku yang disunting Hikmat Budiman ini perlu diapresiasi tinggi karena lima hal. Pertama, khususnya pada Bab Editorial,
Hikmat Budiman mengungkapkan secara jernih kondisi dilematis multikulturalisme di Indonesia. Saya sepakat dengan
penulis bahwa tidak satu pun dari tiga model dan kebijakan multikulturalisme di atas yang pas untuk kondisi Indonesia.
Muncul kegamangan saat berhadapan dengan pertanyaan ”model apa yang sesuai untuk Indonesia?” Kegamangan yang
sama ketika Kamanto Sunarto, Russell Hiang-Khng Heng, dan saya menyunting buku ”Multicultural Education in Indonesia
and Southeast Asia: Stepping into the Unfamiliar”, (2004), Jurnal Antropologi UI, sebagai hasil suatu lokakarya tentang
pendidikan multikultural di Asia Tenggara yang dihadiri pakar-pakar dari Asia Tenggara dan Australia pada tahun itu.
Dengan kata lain, perlu pemikiran lebih lanjut secara mendalam suatu model multikulturalisme seperti apa yang
seyogianya dikembangkan di Tanah Air.
Kedua, buku ini mengangkat dan membicarakan isu baru dalam wacana multikulturalisme di Indonesia secara
komprehensif, yakni isu minoritas, khususnya hak-hak minoritas, yang diperhadapkan dengan isu mayoritas sebagai
konsekuensi kalau berbicara dalam wilayah konsep ini. Yang menarik dan penting disimak adalah analisis historis yang
merekam peralihan dari kebijakan politik sentralistis ke desentralistis, persoalan-persoalan yang muncul di masa lampau
ketika sistem otoritarian itu bekerja, dan agenda persoalan kini yang dihadapi sistem demokrasi yang baru dan gagasan
multikulturalisme yang melekat pada sistem demokrasi tersebut.
Ketiga, buku ini membicarakan multikulturalime dari bawah ke atas, yaitu mengangkat realitas empiris lima masyarakat
minoritas di lima daerah di Indonesia, yakni komunitas Sedulur Sikep (orang Samin) di Jawa, oleh M Uzair Fauzan;
pemeluk Wetutelu, Wet Semokan, Nusa Tenggara Barat, oleh Heru Prasetia; masyarakat Dayak Pitap, Kalimantan Selatan,
oleh Riza Bachtiar; masyarakat di Cagar Alam Wana, Morowali, Sulawesi Tengah, oleh Ignatius Yuli Sudaryanto; dan
masyarakat Tanah Toa, Bulu Kumba, Sulawesi Selatan oleh Samsurijal Adhan. Pendekatan dari bawah ke atas ini adalah
ciri penting dari pendekatan kualitatif yang berupaya membangun suatu model di akhir kajian. Hal ini membedakan dari
perbincangan mengenai multikulturalisme dan minoritas yang dimulai dari konsep yang dibawa dari luar untuk
menjelaskan realitas di lapangan.
Keempat, meski dengan rendah hati editor mengemukakan bahwa sebagian dari penulis adalah masih peneliti yunior,
saya justru menemukan tulisan- tulisan hasil penelitian ini seharusnya ditampilkan para penulis-peneliti senior. Isu, tema,
dan analisis setiap tulisan menggambarkan penguasaan materi dan pendekatan yang baik sehingga secara keseluruhan
buku ini penting dan bermutu untuk memberikan pemahaman kepada kita mengenai minoritas dan multikulturalisme itu
baik dari segi konsep maupun model kebijakan politik kebudayaan.
Kelima, karena secara khusus menyoroti hak-hak minoritas, maka sangat relevan bahwa buku ini memasukkan dua
tulisan penting, yakni tentang agama dan kebudayaan, isu minoritas dan multikulturalisme di Indonesia (Mochammad
Nurkhoirun) serta hak-hak kelompok minoritas dalam norma dan standar hukum internasional hak asasi manusia (A
Patra M.Zen). Dengan dua tulisan ini, buku ini membebaskan dirinya dari isolasi konsepsi lokal dan nasional karena isu
multikulturalisme dan minoritas adalah juga isu global.
Saya sependapat dengan Hikmat Budiman bahwa tidak banyak karya yang terbit dengan pembahasan yang komprehensif
mengenai multikulturalisme untuk konteks Indonesia. Apalagi kalau multikulturalisme tersebut dikaitkan dengan isu-isu
lain yang melekat seperti minoritas, khususnya hak-hak minoritas. Maka, buku ini sangat penting bagi kita yang menaruh
minat pada multikulturalisme dan minoritas khususnya, integrasi bangsa umumnya.
sumber: http://www.kompas.com/kompas-cetak/0601/21/pustaka/2374717.htm
Digital Clock with Islamic Ornament
Kamis, 30 September 2010
Di Tengah Gaung yang Kian Pudar...
Oleh: Indira Permansari
Masih ingat Snouck Hurgronje? Snouck (1857-1936) adalah ilmuwan
berkebangsaan Belanda yang menawarkan diri untuk memberikan gambaran
lengkap tentang Aceh. Pada 1889, Snouck tiba di Pulau Jawa dan sejak
itu ia meneliti pranata Islam di masyarakat pribumi Hindia Belanda,
khususnya Aceh. Dia mempelajari politik kolonial untuk memenangi
pertempuran Belanda di Aceh.
Sosok Snouck kontroversial. Bagi Belanda dan kaum orientalis, boleh
jadi dia dianggap sebagai peneliti yang sukses. Namun, bagi rakyat
Aceh, Snouck adalah sosok pengkhianat sejati yang telah memanipulasi
mereka.
Kisah Snouck adalah penggalan dari perkembangan antropologi di masa
lalu. Saat Eropa mulai membangun koloni di benua lain, termasuk Asia,
mereka mendapat berbagai tantangan dari warga asli; pemberontakan
sampai iklim yang kurang cocok.
Dalam menghadapi permasalahan itu, pemerintah kolonial berusaha
mencari kelemahan suku-suku asli dan menaklukkannya. Mereka mencari
bahan-bahan etnografi tentang suku bangsa di luar Eropa, mempelajari
kebudayaan serta kebiasaan warga koloninya itu untuk kepentingan
kolonisasi. Cerita tentang Snouck dapat dikatakan bagian dari tahapan
itu.
Pascakemerdekaan, antropologi menjadi kajian para intelektual di
negeri sendiri dengan didirikannya Jurusan Antropologi Universitas
Indonesia, setengah abad lampau. Tepatnya, di akhir September 1957,
kajian antropologi hadir sebagai jurusan di lingkungan Fakultas
Sastra UI, diprakarsai Profesor Koentjaraningrat. Dia pula yang
mendorong berdirinya jurusan antropologi di berbagai universitas
negeri lainnya di Indonesia.
"Dalam perkembangannya, antropologi ternyata lebih dekat dengan ilmu-
ilmu sosial ketimbang ilmu humaniora sehingga (tahun 1983)
antropologi di UI berpindah dari fakultas sastra ke fakultas ilmu
sosial dan ilmu politik (FISIP)," kata Jasmine Zaky Shahab, Ketua
Departemen Antropologi, FISIP-UI.
Bedanya dengan masa kolonial, di era pascakemerdekaan antropologi
lebih dimaksudkan menjadi semacam alat bagi kita untuk belajar
melihat dan mengenal diri sendiri. Bukankah antropologi pada intinya
adalah ilmu yang mempelajari manusia, baik fisik maupun budayanya?
Oleh karena itu, kata antropolog Achmad Fedyani Saifuddin, ada bidang
ilmu yang mempelajari tentang antropologi fisik atau jasmani dan ada
antropologi sosial budaya. "Yang disebut terakhir berkembang dengan
baik di Indonesia. Budaya juga dalam artian luas; mulai dari adat
istiadat, tradisi, nilai, cara pandang hidup, cara pandang terhadap
lingkungan, hingga cara memandang dunia," ujarnya.
Bagi Fedyani, masalah mengenal diri sendiri bukan perkara mudah.
Perlu upaya lebih berat dan keras bagi Indonesia dibandingkan bangsa-
bangsa lain, mengingat Indonesia berpenduduk sangat besar dan majemuk
sehingga rentan disintegrasi.
Dan itu merupakan bagian dari pergulatan para antropolog. Terutama
untuk menghadapi tantangan yang kian berat dengan adanya permasalahan
seperti kemiskinan, korupsi, konflik kepentingan, kesenjangan sosial
ekonomi, ketidakpastian pelaksanaan hukum, dan jurang generasi. Belum
lagi fenomena global seperti liberalisasi ekonomi, memudarnya
ideologi serta meningkatnya komunikasi lintas-batas negara serta budaya.
Pudar
Akan tetapi, memasuki usia 50 tahun, gaung dari kajian antropologi
seakan memudar. Hanya sedikit terdengar nama besar di bidang ini,
terutama sepeninggal pakar antropologi Koentjaraningrat. Di tengah
berbagai tantangan dan isu pembangunan, misalnya, peran para ahli
antropologi juga seakan tenggelam.
Bagi Jasmine, eksistensi ilmuwan antropologi di Indonesia tetap ada.
Hanya saja, saat ini tidak terpusat pada satu tokoh seperti di era
Koentjaraningrat. "Saat itu antropologi masih terbilang baru dengan
sedikit orang yang menguasai ilmu itu. Sekarang sudah jauh lebih
banyak dan terspesifikasi," ujarnya.
Lain lagi pendapat James Danandjaja, pakar antropologi yang menekuni
folklore. Ketidakmunculan lagi nama-nama besar, antara lain,
dikarenakan para akademisi di bidang antropologi malas menulis
sehingga tidak terukir dalam peta ingatan masyarakat pembaca.
"Menulis merupakan monumen diri sendiri. Harus ada yang dihasilkan,
baik tulisan, video, atau dokumentasi apa pun," ujarnya.
Selain itu, menurut James, dahulu ahli antropologi lebih dilibatkan
dalam program pembangunan. Koentjaraningrat, misalnya, masuk ke dalam
struktur pemerintahan. Walaupun diakuinya, terpakainya kajian- kajian
antropologi dalam program pembangunan masih dapat diperdebatkan.
"Sekarang malah jauh berkurang. Padahal, departemen-departemen
tertentu, seperti Departemen Sosial, dapat menggunakan manfaat dari
antropologi," ujarnya.
Bagi Iwan Tjitradjaja, Ketua Program Studi Pascasarjana Antropologi
UI, "kekalahan" antropologi dari sektor lain antara lain karena
eksekutif pembangunan cenderung memandang pembangunan sebatas
pembangunan ekonomi. Padahal, secara retorika, sejak dua dekade lalu
telah ditekankan pembangunan mementingkan sosial dan budaya.
Praktiknya, secara teknis ekonomi tetap dikedepankan.
"Dalam perencanaan sebetulnya para ahli antropologi telah dilibatkan,
misalnya dalam feasibility studies. Sayangnya, banyak hasil studi
yang tidak dimanfaatkan. Terkadang, para antropolog telah dilibatkan,
namun saran-saran itu rawan masuk laci meja jika tidak sesuai dengan
kepentingan," kata Iwan.
Dia mencontohkan pentingnya arti kajian antropologi dalam persoalan
kehutanan, penebangan liar, dan okupasi lahan yang telah terjadi luar
biasa. Mulai tahun 1980-an, laju kerusakan hutan sekitar dua juta
hektar dan secara teknis deforestasi kurang berhasil. Muncul konflik
antara pemerintah, pengusaha, dan masyarakat hutan. Konflik lalu
mulai meletupkan kekerasan.
Ketidakberhasilan itu bukan semata masalah teknis, melainkan soal
sosial budaya. Untuk memahami mengapa terjadi kerusakan hutan, kata
Iwan, perlu dipahami dalam konteks dan dimensi budaya.
"Dengan memahami kebudayaan, potensi, kebiasaan masyarakat, semua
pihak bisa duduk bersama dan menyelesaikan permasalahan. Terdapat
apresiasi terhadap keberagaman. Warga desa umumnya tidak
berpendidikan formal tinggi dan kerap dianggap bodoh oleh pengusaha
atau pemerintah. Di sisi lain, warga desa tidak mengerti gaya dan
penampilan hidup yang ditampilkan oleh aparat dan pengusaha yang
terdidik dan orang perkotaan. Orang luar, bagi warga hutan, kerap
dianggap sebagai penyebab terbatasnya akses mereka terhadap sumber
daya alam. Apalagi gaya materialistis yang ditampilkan orang luar.
Pengaruh itu menular dan menguat menjadi kecemburuan. Ini menimbulkan
potensi konflik sosial," ujarnya.
Di negara seperti Indonesia, persoalan yang muncul dari keberagaman
suku bangsa, kelas ekonomi, dan kelas sosial menjadi rawan. Apalagi
diwarnai ketimpangan penguasaan aset ekonomi. Antropologi yang
mencermati kejadian di lapangan dan mendapatkan informasi langsung
dari masyarakat sangat dibutuhkan untuk menjalankan pembangunan yang
berawal dari bawah dan tidak elitis.
Manusia dikesampingkan
Senyapnya gaung antropologi dalam pembangunan, menurut Achmad
Fedyani, tak lepas dari kenyataan betapa selama ini pembangunan kerap
mengesampingkan manusia dan budayanya. Seharusnya manusia ditempatkan
sebagai subyek, mengingat arah pembangunan yang baik ialah untuk
kesejahteraan rakyatnya: manusia!
"Antropologi memang mempelajari suatu komunitas secara mendalam dan
dari dekat. Akan tetapi, ia mempunyai kemampuan reflektif. Ibarat
cahaya lampu yang ditutupi kertas berlubang- lubang, sebagian cahaya
akan menembus lubang dan terpantul di sana-sini. Begitu juga dengan
antropologi, suatu kasus yang dipelajari di suatu tempat dapat
terjadi di tempat lain dan menjadi pembelajaran. Walaupun, tentu
saja, solusinya tetap harus disesuaikan dengan aspirasi masyarakat
dan tidak seragam," ujarnya.
Lebih miris lagi, kebudayaan kerap kali didangkalkan menjadi sekadar
adat istiadat dan kesenian. Padahal, budaya secara lebih luas ialah
cara berpikir, pengetahuan, pandangan hidup, dan nilai-nilai.
Jika para pengguna penelitian antropologi menggunakannya dengan
tepat, antropologi akan sangat besar memberikan pengaruh. Saat ini
Fedyani, misalnya, dilibatkan dalam Lembaga Demografi UI yang
mempunyai ide untuk memasukkan aspek sosial budaya ke dalam dunia
kesehatan. Bentuknya, berupa program non-gelar sosial budaya untuk
seluruh fakultas kedokteran di Indonesia. Antropologi dijadikan satu
mata kuliah.
"Jangan salah, dokter juga harus mempunyai kompetensi sosial budaya.
Begitu mereka bertugas di lapangan akan muncul beragam tantangan.
Pemahaman sosial budaya akan sangat baik untuk mengatasi persoalan-
persoalan itu. Dokter berhadapan dengan manusia dengan segala latar
belakang budayanya. Kasarnya, kalau mereka menyuntik, itu bukan
sekadar menyuntik benda fisik dan yang disuntik lalu sembuh," katanya.
Di usia yang setengah abad, semoga saja kajian antropologi di
Indonesia semakin dihargai. Tentu saja agar hidup kita bersama
sebagai bangsa tidak diwarnai kesalahkaprahan....
Sumber: KOMPAS, 25 September 2007
Masih ingat Snouck Hurgronje? Snouck (1857-1936) adalah ilmuwan
berkebangsaan Belanda yang menawarkan diri untuk memberikan gambaran
lengkap tentang Aceh. Pada 1889, Snouck tiba di Pulau Jawa dan sejak
itu ia meneliti pranata Islam di masyarakat pribumi Hindia Belanda,
khususnya Aceh. Dia mempelajari politik kolonial untuk memenangi
pertempuran Belanda di Aceh.
Sosok Snouck kontroversial. Bagi Belanda dan kaum orientalis, boleh
jadi dia dianggap sebagai peneliti yang sukses. Namun, bagi rakyat
Aceh, Snouck adalah sosok pengkhianat sejati yang telah memanipulasi
mereka.
Kisah Snouck adalah penggalan dari perkembangan antropologi di masa
lalu. Saat Eropa mulai membangun koloni di benua lain, termasuk Asia,
mereka mendapat berbagai tantangan dari warga asli; pemberontakan
sampai iklim yang kurang cocok.
Dalam menghadapi permasalahan itu, pemerintah kolonial berusaha
mencari kelemahan suku-suku asli dan menaklukkannya. Mereka mencari
bahan-bahan etnografi tentang suku bangsa di luar Eropa, mempelajari
kebudayaan serta kebiasaan warga koloninya itu untuk kepentingan
kolonisasi. Cerita tentang Snouck dapat dikatakan bagian dari tahapan
itu.
Pascakemerdekaan, antropologi menjadi kajian para intelektual di
negeri sendiri dengan didirikannya Jurusan Antropologi Universitas
Indonesia, setengah abad lampau. Tepatnya, di akhir September 1957,
kajian antropologi hadir sebagai jurusan di lingkungan Fakultas
Sastra UI, diprakarsai Profesor Koentjaraningrat. Dia pula yang
mendorong berdirinya jurusan antropologi di berbagai universitas
negeri lainnya di Indonesia.
"Dalam perkembangannya, antropologi ternyata lebih dekat dengan ilmu-
ilmu sosial ketimbang ilmu humaniora sehingga (tahun 1983)
antropologi di UI berpindah dari fakultas sastra ke fakultas ilmu
sosial dan ilmu politik (FISIP)," kata Jasmine Zaky Shahab, Ketua
Departemen Antropologi, FISIP-UI.
Bedanya dengan masa kolonial, di era pascakemerdekaan antropologi
lebih dimaksudkan menjadi semacam alat bagi kita untuk belajar
melihat dan mengenal diri sendiri. Bukankah antropologi pada intinya
adalah ilmu yang mempelajari manusia, baik fisik maupun budayanya?
Oleh karena itu, kata antropolog Achmad Fedyani Saifuddin, ada bidang
ilmu yang mempelajari tentang antropologi fisik atau jasmani dan ada
antropologi sosial budaya. "Yang disebut terakhir berkembang dengan
baik di Indonesia. Budaya juga dalam artian luas; mulai dari adat
istiadat, tradisi, nilai, cara pandang hidup, cara pandang terhadap
lingkungan, hingga cara memandang dunia," ujarnya.
Bagi Fedyani, masalah mengenal diri sendiri bukan perkara mudah.
Perlu upaya lebih berat dan keras bagi Indonesia dibandingkan bangsa-
bangsa lain, mengingat Indonesia berpenduduk sangat besar dan majemuk
sehingga rentan disintegrasi.
Dan itu merupakan bagian dari pergulatan para antropolog. Terutama
untuk menghadapi tantangan yang kian berat dengan adanya permasalahan
seperti kemiskinan, korupsi, konflik kepentingan, kesenjangan sosial
ekonomi, ketidakpastian pelaksanaan hukum, dan jurang generasi. Belum
lagi fenomena global seperti liberalisasi ekonomi, memudarnya
ideologi serta meningkatnya komunikasi lintas-batas negara serta budaya.
Pudar
Akan tetapi, memasuki usia 50 tahun, gaung dari kajian antropologi
seakan memudar. Hanya sedikit terdengar nama besar di bidang ini,
terutama sepeninggal pakar antropologi Koentjaraningrat. Di tengah
berbagai tantangan dan isu pembangunan, misalnya, peran para ahli
antropologi juga seakan tenggelam.
Bagi Jasmine, eksistensi ilmuwan antropologi di Indonesia tetap ada.
Hanya saja, saat ini tidak terpusat pada satu tokoh seperti di era
Koentjaraningrat. "Saat itu antropologi masih terbilang baru dengan
sedikit orang yang menguasai ilmu itu. Sekarang sudah jauh lebih
banyak dan terspesifikasi," ujarnya.
Lain lagi pendapat James Danandjaja, pakar antropologi yang menekuni
folklore. Ketidakmunculan lagi nama-nama besar, antara lain,
dikarenakan para akademisi di bidang antropologi malas menulis
sehingga tidak terukir dalam peta ingatan masyarakat pembaca.
"Menulis merupakan monumen diri sendiri. Harus ada yang dihasilkan,
baik tulisan, video, atau dokumentasi apa pun," ujarnya.
Selain itu, menurut James, dahulu ahli antropologi lebih dilibatkan
dalam program pembangunan. Koentjaraningrat, misalnya, masuk ke dalam
struktur pemerintahan. Walaupun diakuinya, terpakainya kajian- kajian
antropologi dalam program pembangunan masih dapat diperdebatkan.
"Sekarang malah jauh berkurang. Padahal, departemen-departemen
tertentu, seperti Departemen Sosial, dapat menggunakan manfaat dari
antropologi," ujarnya.
Bagi Iwan Tjitradjaja, Ketua Program Studi Pascasarjana Antropologi
UI, "kekalahan" antropologi dari sektor lain antara lain karena
eksekutif pembangunan cenderung memandang pembangunan sebatas
pembangunan ekonomi. Padahal, secara retorika, sejak dua dekade lalu
telah ditekankan pembangunan mementingkan sosial dan budaya.
Praktiknya, secara teknis ekonomi tetap dikedepankan.
"Dalam perencanaan sebetulnya para ahli antropologi telah dilibatkan,
misalnya dalam feasibility studies. Sayangnya, banyak hasil studi
yang tidak dimanfaatkan. Terkadang, para antropolog telah dilibatkan,
namun saran-saran itu rawan masuk laci meja jika tidak sesuai dengan
kepentingan," kata Iwan.
Dia mencontohkan pentingnya arti kajian antropologi dalam persoalan
kehutanan, penebangan liar, dan okupasi lahan yang telah terjadi luar
biasa. Mulai tahun 1980-an, laju kerusakan hutan sekitar dua juta
hektar dan secara teknis deforestasi kurang berhasil. Muncul konflik
antara pemerintah, pengusaha, dan masyarakat hutan. Konflik lalu
mulai meletupkan kekerasan.
Ketidakberhasilan itu bukan semata masalah teknis, melainkan soal
sosial budaya. Untuk memahami mengapa terjadi kerusakan hutan, kata
Iwan, perlu dipahami dalam konteks dan dimensi budaya.
"Dengan memahami kebudayaan, potensi, kebiasaan masyarakat, semua
pihak bisa duduk bersama dan menyelesaikan permasalahan. Terdapat
apresiasi terhadap keberagaman. Warga desa umumnya tidak
berpendidikan formal tinggi dan kerap dianggap bodoh oleh pengusaha
atau pemerintah. Di sisi lain, warga desa tidak mengerti gaya dan
penampilan hidup yang ditampilkan oleh aparat dan pengusaha yang
terdidik dan orang perkotaan. Orang luar, bagi warga hutan, kerap
dianggap sebagai penyebab terbatasnya akses mereka terhadap sumber
daya alam. Apalagi gaya materialistis yang ditampilkan orang luar.
Pengaruh itu menular dan menguat menjadi kecemburuan. Ini menimbulkan
potensi konflik sosial," ujarnya.
Di negara seperti Indonesia, persoalan yang muncul dari keberagaman
suku bangsa, kelas ekonomi, dan kelas sosial menjadi rawan. Apalagi
diwarnai ketimpangan penguasaan aset ekonomi. Antropologi yang
mencermati kejadian di lapangan dan mendapatkan informasi langsung
dari masyarakat sangat dibutuhkan untuk menjalankan pembangunan yang
berawal dari bawah dan tidak elitis.
Manusia dikesampingkan
Senyapnya gaung antropologi dalam pembangunan, menurut Achmad
Fedyani, tak lepas dari kenyataan betapa selama ini pembangunan kerap
mengesampingkan manusia dan budayanya. Seharusnya manusia ditempatkan
sebagai subyek, mengingat arah pembangunan yang baik ialah untuk
kesejahteraan rakyatnya: manusia!
"Antropologi memang mempelajari suatu komunitas secara mendalam dan
dari dekat. Akan tetapi, ia mempunyai kemampuan reflektif. Ibarat
cahaya lampu yang ditutupi kertas berlubang- lubang, sebagian cahaya
akan menembus lubang dan terpantul di sana-sini. Begitu juga dengan
antropologi, suatu kasus yang dipelajari di suatu tempat dapat
terjadi di tempat lain dan menjadi pembelajaran. Walaupun, tentu
saja, solusinya tetap harus disesuaikan dengan aspirasi masyarakat
dan tidak seragam," ujarnya.
Lebih miris lagi, kebudayaan kerap kali didangkalkan menjadi sekadar
adat istiadat dan kesenian. Padahal, budaya secara lebih luas ialah
cara berpikir, pengetahuan, pandangan hidup, dan nilai-nilai.
Jika para pengguna penelitian antropologi menggunakannya dengan
tepat, antropologi akan sangat besar memberikan pengaruh. Saat ini
Fedyani, misalnya, dilibatkan dalam Lembaga Demografi UI yang
mempunyai ide untuk memasukkan aspek sosial budaya ke dalam dunia
kesehatan. Bentuknya, berupa program non-gelar sosial budaya untuk
seluruh fakultas kedokteran di Indonesia. Antropologi dijadikan satu
mata kuliah.
"Jangan salah, dokter juga harus mempunyai kompetensi sosial budaya.
Begitu mereka bertugas di lapangan akan muncul beragam tantangan.
Pemahaman sosial budaya akan sangat baik untuk mengatasi persoalan-
persoalan itu. Dokter berhadapan dengan manusia dengan segala latar
belakang budayanya. Kasarnya, kalau mereka menyuntik, itu bukan
sekadar menyuntik benda fisik dan yang disuntik lalu sembuh," katanya.
Di usia yang setengah abad, semoga saja kajian antropologi di
Indonesia semakin dihargai. Tentu saja agar hidup kita bersama
sebagai bangsa tidak diwarnai kesalahkaprahan....
Sumber: KOMPAS, 25 September 2007
Yang Asyik-asyik dari "Antropologi Klasik"
Oleh: Mulyawan Karim dan Rudy Badil
Saat berlangsung Ekspedisi Tanah Papua, Agustus lalu, belasan
wartawan Kompas menyebar di segala pelosok tanah Papua. Tentu saja
dengan niatan meliput soal masyarakat dan kebudayaan Papua, di masa
ramai-ramainya demo dan bertebarannya layanan pesan singkat atau SMS
penuh muatan teror berita ribut-ribut soal otonomi khusus, pemekaran
daerah, hubungan kurang seru antara Merah Putih dan "bintang kejora",
malah pakai tebaran bumbu isu "seperatisme" segala.
Anggota Ekspedisi Tanah Papua (ETP) yang bertugas mencari berita dan
kisah kejadian di lapangan tentu saja senang-senang tak tenang
membaca catatan ancaman SMS yang seru-seram, atau sering tertawa
mendengar mop atau cerita lucu-lucuan khas Papua, semisal mop saat
gencar-gencarnya kampanye aman dari HIV/AIDS dengan kondom: "Kau mau
aman, jangan pakai tentara jangan pakai polisi. Pakai... kondom!"
Namun, yang kepikiran justru bukan SMS atau mop itu. Sebab, dari
catatan yang terbawa, tercatat nama-nama yang kebanyakan bergelar
sarjana antropologi, juga sarjana ilmu lainnya, termasuk pakar
otodidak di Papua.
Pertemuan dan diskusi terjalin rapi jali, informasi pun masuk dengan
tulus dan mulus. Hingga rekan yang di Lembah Balim tahu duduk soal
"busana", berupa cangkang labu kering penutup aurat pria itu namanya
holim, atau koteka di Paniai, huni di Mapi, kobewak di kawasan
Tolikara, atau anyum di Pegunungan Bintang. Juga rumah bundar orang
Dani, namanya dalam tulisan antara honae, honei, honay, dan bukan
"honey" yang dikira turis bule artinya madu atau sayang.
Untungnya kebanyakan sarjana antropologi atau antropolog, begitu
sebutannya, memang "Anak-anak Papua", misalnya Dr Johsz Robert
Mansoben, Dr Nafi Sangganafa, Drs Jack Morind MA, Drs Frans Apomfires
MA, Dra Mien A Rumbiak MA, Drs Freddy Sokoy MA, Drs Roriwo Karetji MM
beserta antropolog lainnya. Kebetulan sekali, mayoritas dari nama itu
memang antropolog "cangkokan" dari Universitas Indonesia (UI), UGM,
Unpad, dan juga luar negeri.
Akan tetapi, selain nama antropolog Papua yang "Orang Komin" dengan
kulit hitam dan rambut keriting, juga ada beberapa "Orang Amber" yang
bukan "anak Papua" karena rambut lurusnya dengan kulit sawo matang,
tetapi mengenal Papua karena tugas dan memang kelahiran Papua,
seperti Ahmad Kadir MSi, Marsum MSi, atau Dr Onny Suwardi Redjo MPH
yang "jamer" alias Jawa-Merauke. Selain itu, ada juga Nicodemus Tan
yang peranakan China-Papua serta sobat lain, termasuk rohaniwan dan
guru sekolah yang "Orang Amber", tetapi memiliki pengetahuan "ilmu
dasar" antropologi praktis karena tugas dan pergaulannya sehari-hari.
Kesadaran mencari sumber yang tahu antropologi mutlak bagi peliput
yang mau menulis jernih dan bersih soal manusia dan budaya Papua.
Bayangkan kalau sampai salah sumber, bisa- bisa dianggap menyebarkan
isu murahan sejenis SMS teror yang lagi ramai-ramainya di sana.
Disebut "ilmu sisa"
Sebelum kemerdekaan tahun 1945, antropologi memang "ilmunya" orang
Belanda. Mereka yang akan bertugas di Hindia Timur sebagai pegawai
pemerintah kolonial, tentara, atau penyiar agama diwajibkan punya
bekal pengetahuan luas soal bumi, bahasa-bahasa, dan adat istiadat
rakyat negeri jajahan itu.
Ilmu tentang Indonesia itu disebut land- en volkenkunde van
Nederlandsch-Indie alias ilmu bumi dan ilmu bangsa-bangsa Hindia
Belanda, bukan antropologi.
Satu-satunya antropolog Belanda masa itu hanya GA Wilken, guru besar
Universitas Leiden pada 1885. Dalam buku Tokoh-tokoh Antropologi
(1962), Wilken disebut Koentjaraningrat (15 Juni 1923-23 Maret 1999)
sebagai penganut aliran evolusionisme karena membuat kerangka dasar
untuk penggolongan suku bangsa di Indonesia.
Setelah zaman Wilken, penelitian tentang bumi, masyarakat, dan
kebudayaan Indonesia diambil alih pakar non-antropologi. Misalnya
penelitian bahasa dan filologi, aneka ragam masyarakat dan hukum adat
Nusantara, menghasilkan adatrechtsmonografieen atau adatrechtbundels.
Penelitian sejarah persebaran agama Islam, hukum Islam, prasejarah
Indonesia, dan lainnya, termasuk masyarakat pedesaan Indonesia, lebih
banyak dilakukan ahli pertanian. Sampai-sampai di Belanda antropologi
disebut sebagai "ilmu sisa" karena meneliti aspek masyarakat dan
kebudayaan Indonesia yang dianggap tak perlu diselidiki dan dikaji lagi.
Bersamaan dengan itu, pengumpulan data etnologi Indonesia yang giat
dilakukan akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, meski bukan dilakukan
antropolog, dapat menghasilkan karya etnogarfi yang lengkap. Misalnya
C Snouck Hurgronje yang ahli filologi Semit, tetapi terkenal sebagai
penulis buku etnografi Aceh dan Gayo yang hebat. AW Niewenhuis yang
dokter, tetapi menulis buku deskripsi lengkap dan mendalam tentang
suku-suku Dayak di Kalimantan, saatnya memimpin ekspedisi lintas
Kapuas-Mahakam dari Barat-Timur Kalimantan.
Begitu juga buku etnografi tentang adat istiadat suku Toraja Barat
dan Toraja Timur, karya AC Kruyt yang seorang guru agama, tetapi
sudah berbekal land- en volkenkunde dari Binnenlands Bestuur atau
Departemen Dalam Negeri Belanda.
Pada masa yang sama, antropolog Barat non-Belanda juga banyak
meneliti di Indonesia bagian timur. Di antaranya EM Loeb sebagai
antropolog Amerika Serikat pertama yang meneliti di Sumatera Barat,
disusul antropolog perempuan AS, seperti Cora Dubois yang meneliti di
Alor dan Margaret Mead di Bali.
Era baru kajian antropologi Indonesia muncul menjelang Perang Dunia
II. JPB de Josselin de Jong bersama antropolog Belanda lainnya
meneliti struktur sosial kuno masyarakat di Nusa Tenggara, Sulawesi,
Kalimantan, Papua, dan lainnya.
Namun, penelitian tentang keanekaragaman masyarakat dan kebudayaan
Indonesia sempat terhenti pada awal zaman kemerdekaan karena peneliti
Belanda itu hampir semua pulang ke Belanda, kecuali GJ Held yang guru
besar antropologi di UI sampai wafatnya pada 1956.
Peran antropolog Belanda berangsur diambil alih peneliti dari AS.
Sejak sekitar tahun 1955 banyak di antaranya meneliti lapangan di
Indonesia. Beberapa hasil risetnya pun menjadi buku klasik dan
legendaris, seperti Clifford Geertz (Religion of Java, 1960), Hildred
Geertz (The Javanese Family, 1961), dan AC Dewey (Peasant Marketing
in Java, 1962).
Menyebar setelah UI
Dalam masa peralihan itu pula, tepatnya tahun 1957, setelah setahun
sebelumnya Koentjaraningrat kembali membawa gelar master antropologi
dari Universitas Yale.
Waktu itu berdiri jurusan antropologi di Fakultas Sastra UI. Jurusan
baru ini membuka peluang bagi mahasiswa Indonesia melanjutkan studi
di bidang penelitian masyarakat dan kebudayaannya. Bukan lagi
meneliti kegiatan koloni penjajahan, seperti yang dilakukan ahli
land- en volkenkunde Belanda dulu.
Antropologi sebagai ilmu baru dikembangkan melalui mata kuliah dasar,
agar mahasiswanya mulai mengerti lebih jauh soal keindonesiaan dengan
ragam-ragam budayanya.
Pengetahuan yang tadinya berdasarkan kebutuhan praktis Belanda, yang
disebut practical anthropology, kini mempelajari lebih tajam lagi
soal asas kebudayaan, konsep, metode dan teori baru, juga menjadi
ilmu terapan untuk penelitian perubahan dan pergeseran kebudayaan
manusia dalam masa transisi sosial budayanya.
Ilmu yang tadinya disebut "ilmu sisa" sepertinya kini cocok disebut
sebagai salah satu "dasar"-nya ilmu-ilmu sosial, agar orang lebih
mengenal manusia lainnya secara utuh sebagai individu berikut latar
belakang sosial budayanya. Sebab, selama 50 tahun kian banyak
antropolog di banyak perguruan tinggi, sambil mengajar dan
mengembangkan antropologi di dalam ruang maupun lapangan penelitian.
Hanya yang harus dipikirkan, apa saja karya lapangan yang dapat
diterapkan untuk umum, agar mengenal lebih jauh manusia dan perilaku
sosial-budayanya.
Sebab, kalau dari buku referensi hasil penelitian empirik, terus
terang sulit bagi wartawan menemukan bahan yang cocok mau tahu ABC-
nya manusia dan kebudayaan yang didatangi, seperti yang dihadapi tim
ETP Kompas selama di Papua.
Untung rekan-rekan Universitas Cenderawasih amat bersahabat dan mau
bagi-bagi ilmunya. Harap saja masih ada rekan antropolog di USU
Medan, Unpad Bandung, UGM Yogyakarta, Udayana Denpasar, Unhas
Makassar, Unsrat Manado, Uncen Jayapura dan lainnya masih tetap mau
bagi-bagi sisi lain ilmu antropologinya, sebagai ilmu dasar yang
klasik tapi asyik.
Sumber: KOMPAS, 27 September 2007
Saat berlangsung Ekspedisi Tanah Papua, Agustus lalu, belasan
wartawan Kompas menyebar di segala pelosok tanah Papua. Tentu saja
dengan niatan meliput soal masyarakat dan kebudayaan Papua, di masa
ramai-ramainya demo dan bertebarannya layanan pesan singkat atau SMS
penuh muatan teror berita ribut-ribut soal otonomi khusus, pemekaran
daerah, hubungan kurang seru antara Merah Putih dan "bintang kejora",
malah pakai tebaran bumbu isu "seperatisme" segala.
Anggota Ekspedisi Tanah Papua (ETP) yang bertugas mencari berita dan
kisah kejadian di lapangan tentu saja senang-senang tak tenang
membaca catatan ancaman SMS yang seru-seram, atau sering tertawa
mendengar mop atau cerita lucu-lucuan khas Papua, semisal mop saat
gencar-gencarnya kampanye aman dari HIV/AIDS dengan kondom: "Kau mau
aman, jangan pakai tentara jangan pakai polisi. Pakai... kondom!"
Namun, yang kepikiran justru bukan SMS atau mop itu. Sebab, dari
catatan yang terbawa, tercatat nama-nama yang kebanyakan bergelar
sarjana antropologi, juga sarjana ilmu lainnya, termasuk pakar
otodidak di Papua.
Pertemuan dan diskusi terjalin rapi jali, informasi pun masuk dengan
tulus dan mulus. Hingga rekan yang di Lembah Balim tahu duduk soal
"busana", berupa cangkang labu kering penutup aurat pria itu namanya
holim, atau koteka di Paniai, huni di Mapi, kobewak di kawasan
Tolikara, atau anyum di Pegunungan Bintang. Juga rumah bundar orang
Dani, namanya dalam tulisan antara honae, honei, honay, dan bukan
"honey" yang dikira turis bule artinya madu atau sayang.
Untungnya kebanyakan sarjana antropologi atau antropolog, begitu
sebutannya, memang "Anak-anak Papua", misalnya Dr Johsz Robert
Mansoben, Dr Nafi Sangganafa, Drs Jack Morind MA, Drs Frans Apomfires
MA, Dra Mien A Rumbiak MA, Drs Freddy Sokoy MA, Drs Roriwo Karetji MM
beserta antropolog lainnya. Kebetulan sekali, mayoritas dari nama itu
memang antropolog "cangkokan" dari Universitas Indonesia (UI), UGM,
Unpad, dan juga luar negeri.
Akan tetapi, selain nama antropolog Papua yang "Orang Komin" dengan
kulit hitam dan rambut keriting, juga ada beberapa "Orang Amber" yang
bukan "anak Papua" karena rambut lurusnya dengan kulit sawo matang,
tetapi mengenal Papua karena tugas dan memang kelahiran Papua,
seperti Ahmad Kadir MSi, Marsum MSi, atau Dr Onny Suwardi Redjo MPH
yang "jamer" alias Jawa-Merauke. Selain itu, ada juga Nicodemus Tan
yang peranakan China-Papua serta sobat lain, termasuk rohaniwan dan
guru sekolah yang "Orang Amber", tetapi memiliki pengetahuan "ilmu
dasar" antropologi praktis karena tugas dan pergaulannya sehari-hari.
Kesadaran mencari sumber yang tahu antropologi mutlak bagi peliput
yang mau menulis jernih dan bersih soal manusia dan budaya Papua.
Bayangkan kalau sampai salah sumber, bisa- bisa dianggap menyebarkan
isu murahan sejenis SMS teror yang lagi ramai-ramainya di sana.
Disebut "ilmu sisa"
Sebelum kemerdekaan tahun 1945, antropologi memang "ilmunya" orang
Belanda. Mereka yang akan bertugas di Hindia Timur sebagai pegawai
pemerintah kolonial, tentara, atau penyiar agama diwajibkan punya
bekal pengetahuan luas soal bumi, bahasa-bahasa, dan adat istiadat
rakyat negeri jajahan itu.
Ilmu tentang Indonesia itu disebut land- en volkenkunde van
Nederlandsch-Indie alias ilmu bumi dan ilmu bangsa-bangsa Hindia
Belanda, bukan antropologi.
Satu-satunya antropolog Belanda masa itu hanya GA Wilken, guru besar
Universitas Leiden pada 1885. Dalam buku Tokoh-tokoh Antropologi
(1962), Wilken disebut Koentjaraningrat (15 Juni 1923-23 Maret 1999)
sebagai penganut aliran evolusionisme karena membuat kerangka dasar
untuk penggolongan suku bangsa di Indonesia.
Setelah zaman Wilken, penelitian tentang bumi, masyarakat, dan
kebudayaan Indonesia diambil alih pakar non-antropologi. Misalnya
penelitian bahasa dan filologi, aneka ragam masyarakat dan hukum adat
Nusantara, menghasilkan adatrechtsmonografieen atau adatrechtbundels.
Penelitian sejarah persebaran agama Islam, hukum Islam, prasejarah
Indonesia, dan lainnya, termasuk masyarakat pedesaan Indonesia, lebih
banyak dilakukan ahli pertanian. Sampai-sampai di Belanda antropologi
disebut sebagai "ilmu sisa" karena meneliti aspek masyarakat dan
kebudayaan Indonesia yang dianggap tak perlu diselidiki dan dikaji lagi.
Bersamaan dengan itu, pengumpulan data etnologi Indonesia yang giat
dilakukan akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, meski bukan dilakukan
antropolog, dapat menghasilkan karya etnogarfi yang lengkap. Misalnya
C Snouck Hurgronje yang ahli filologi Semit, tetapi terkenal sebagai
penulis buku etnografi Aceh dan Gayo yang hebat. AW Niewenhuis yang
dokter, tetapi menulis buku deskripsi lengkap dan mendalam tentang
suku-suku Dayak di Kalimantan, saatnya memimpin ekspedisi lintas
Kapuas-Mahakam dari Barat-Timur Kalimantan.
Begitu juga buku etnografi tentang adat istiadat suku Toraja Barat
dan Toraja Timur, karya AC Kruyt yang seorang guru agama, tetapi
sudah berbekal land- en volkenkunde dari Binnenlands Bestuur atau
Departemen Dalam Negeri Belanda.
Pada masa yang sama, antropolog Barat non-Belanda juga banyak
meneliti di Indonesia bagian timur. Di antaranya EM Loeb sebagai
antropolog Amerika Serikat pertama yang meneliti di Sumatera Barat,
disusul antropolog perempuan AS, seperti Cora Dubois yang meneliti di
Alor dan Margaret Mead di Bali.
Era baru kajian antropologi Indonesia muncul menjelang Perang Dunia
II. JPB de Josselin de Jong bersama antropolog Belanda lainnya
meneliti struktur sosial kuno masyarakat di Nusa Tenggara, Sulawesi,
Kalimantan, Papua, dan lainnya.
Namun, penelitian tentang keanekaragaman masyarakat dan kebudayaan
Indonesia sempat terhenti pada awal zaman kemerdekaan karena peneliti
Belanda itu hampir semua pulang ke Belanda, kecuali GJ Held yang guru
besar antropologi di UI sampai wafatnya pada 1956.
Peran antropolog Belanda berangsur diambil alih peneliti dari AS.
Sejak sekitar tahun 1955 banyak di antaranya meneliti lapangan di
Indonesia. Beberapa hasil risetnya pun menjadi buku klasik dan
legendaris, seperti Clifford Geertz (Religion of Java, 1960), Hildred
Geertz (The Javanese Family, 1961), dan AC Dewey (Peasant Marketing
in Java, 1962).
Menyebar setelah UI
Dalam masa peralihan itu pula, tepatnya tahun 1957, setelah setahun
sebelumnya Koentjaraningrat kembali membawa gelar master antropologi
dari Universitas Yale.
Waktu itu berdiri jurusan antropologi di Fakultas Sastra UI. Jurusan
baru ini membuka peluang bagi mahasiswa Indonesia melanjutkan studi
di bidang penelitian masyarakat dan kebudayaannya. Bukan lagi
meneliti kegiatan koloni penjajahan, seperti yang dilakukan ahli
land- en volkenkunde Belanda dulu.
Antropologi sebagai ilmu baru dikembangkan melalui mata kuliah dasar,
agar mahasiswanya mulai mengerti lebih jauh soal keindonesiaan dengan
ragam-ragam budayanya.
Pengetahuan yang tadinya berdasarkan kebutuhan praktis Belanda, yang
disebut practical anthropology, kini mempelajari lebih tajam lagi
soal asas kebudayaan, konsep, metode dan teori baru, juga menjadi
ilmu terapan untuk penelitian perubahan dan pergeseran kebudayaan
manusia dalam masa transisi sosial budayanya.
Ilmu yang tadinya disebut "ilmu sisa" sepertinya kini cocok disebut
sebagai salah satu "dasar"-nya ilmu-ilmu sosial, agar orang lebih
mengenal manusia lainnya secara utuh sebagai individu berikut latar
belakang sosial budayanya. Sebab, selama 50 tahun kian banyak
antropolog di banyak perguruan tinggi, sambil mengajar dan
mengembangkan antropologi di dalam ruang maupun lapangan penelitian.
Hanya yang harus dipikirkan, apa saja karya lapangan yang dapat
diterapkan untuk umum, agar mengenal lebih jauh manusia dan perilaku
sosial-budayanya.
Sebab, kalau dari buku referensi hasil penelitian empirik, terus
terang sulit bagi wartawan menemukan bahan yang cocok mau tahu ABC-
nya manusia dan kebudayaan yang didatangi, seperti yang dihadapi tim
ETP Kompas selama di Papua.
Untung rekan-rekan Universitas Cenderawasih amat bersahabat dan mau
bagi-bagi ilmunya. Harap saja masih ada rekan antropolog di USU
Medan, Unpad Bandung, UGM Yogyakarta, Udayana Denpasar, Unhas
Makassar, Unsrat Manado, Uncen Jayapura dan lainnya masih tetap mau
bagi-bagi sisi lain ilmu antropologinya, sebagai ilmu dasar yang
klasik tapi asyik.
Sumber: KOMPAS, 27 September 2007
Surat Cinta Untuk Calon Istriku
PS: ini adalah tulisan dari seorang kawan, meskipun begitu pesan yang disampaikan dalam tulisan ini lebih dari cukup untuk mewakili apa yang saya (dan laki2 pada umumnya) fikirkan. semoga bisa jadi manfaat buat [kita] semua. selamat membaca.....
Assalammu'alaikum Wr... Wb...
Apa kabar calon istriku? Hope u well and do take care...
Allah selalu bersama kita
Ukhtiku...
Masihkah menungguku...?
Hm... menunggu, menanti atau whatever-lah yang sejenis dengan itu kata orang membosankan. Benarkah?!
Menunggu...
Hanya sedikit orang yang menganggapnya sebagai hal yang 'istimewa'
Dan bagiku, menunggu adalah hal istimewa
Karena banyak manfaat yang bisa dikerjakan dan yang diperoleh dari menunggu
Membaca, menulis, diskusi ringan, atau hal lain yang bermanfaat
Menunggu bisa juga dimanfaatkan untuk mengagungkan-Nya,
melihat fenomena kehidupan di sekitar tempat menunggu,
atau sekadar merenungi kembali hal yang telah terlewati
Eits, bukan berarti melamun sampai angong alias ngayal dengan pikiran kosong
Karena itu justru berbahaya, bisa mengundang makhluk dari 'dunia lain' masuk ke jiwa
Banyak hal lain yang bisa kau lakukan saat menunggu
Percayalah bahwa tak selamanya sendiri itu perih
Ngejomblo itu nikmat, jenderal!
Ups, itu judul tulisanku beberapa waktu lalu
Bahwa di masa penantian, kita sebenarnya bisa lebih produktif
Mumpung waktu kita masih banyak luang
Belum tersita dengan kehidupan rumah tangga
Jadi waktu kita untuk mencerahkan ummat lebih banyak
Karena permasalahan ummat saat ini pun makin banyak
Karenanya wahai bidadari dunia...
Maklumilah bila sampai saat ini aku belum datang
Bukan ku tak ingin, bukan ku tak mau, bukan ku menunda
Tapi persoalan yang mendera bangsa ini kian banyak dan kian rumit
Begitu banyak anak tak berdosa yang harus menderita karena busung lapar, kurang gizi, lumpuh layuh hingga muntaber
Belum lagi satu per satu kasus korupsi tingkat tinggi yang membuktikan bahwa negeri ini 'sarang tikus'
Ditambah lagi bencana demi bencana yang melanda negeri ini
Meski saat ini hidup untuk diri sendiri pun rasanya masih sulit
Namun seperti seorang ustadz pernah mengatakan bahwa hidup untuk orang lain adalah sebuah kemuliaan Memberi di saat kita sedang sangat kesusahan adalah pemberian terbaik
Bahwa kita belumlah hidup jika kita hanya hidup untuk diri sendiri
Ukhtiku...
Di mana pun engkau sekarang, janganlah gundah, janganlah gelisah
Telah kulihat wajahmu dan aku mengerti,
betapa merindunya dirimu akan hadirnya diriku di dalam hari-harimu
Percayalah padaku aku pun rindu akan hadirmu
Aku akan datang, tapi mungkin tidak sekarang
Karena jalan ini masih panjang
Banyak hal yang menghadang
Hatiku pun melagu dalam nada angan
Seolah sedetik tiada tersisakan
Resah hati tak mampu kuhindarkan
Tentang sekelebat bayang, tentang sepenggal masa depan
Karang asaku tiada 'kan terkikis dari panjang jalan perjuangan, hanya karena sebuah kegelisahan
Lebih baik mempersiapkan diri sebelum mengambil keputusan
Keputusan besar untuk datang kepadamu
Ukhtiku...
Jangan menangis, jangan bersedih, hapus keraguan di dalam hatimu
Percayalah pada-Nya, Yang Maha Pemberi Cinta,
bahwa ini hanya likuan hidup yang pasti berakhir
Yakinlah...saat itu pasti 'kan tiba
Tak usah kau risau karena makin memudarnya kecantikanmu
Karena kecantikan hati dan iman yang dicari
Tak usah kau resah karena makin hilangnya aura keindahan luarmu
Karena aura keimananlah yang utama
Itulah auramu yang memancarkan cahaya syurga,
merasuk dan menembus relung jiwa
Wahai perhiasan terindah...
Hidupmu jangan kau pertaruhkan, hanya karena kau lelah menunggu. Apalagi hanya demi sebuah pernikahan. Karena pernikahan tak dibangun dalam sesaat, tapi ia bisa hancur dalam sedetik. Seperti Kota Iraq yang dibangun ratusan tahun, tapi bisa hancur dalam waktu sekian hari.
Jangan pernah merasa, hidup ini tak adil
Kita tak akan pernah bisa mendapatkan semua yang kita inginkan dalam hidup
Pasrahkan inginmu sedalam qalbu, pada tahajjud malammu
Bariskan harapmu sepenuh rindumu, pada istikharah di shalat malammu
Pulanglah pada-Nya, ke dalam pelukan-Nya
Jika memang kau tak sempat bertemu diriku,
sungguh...itu karena dirimu begitu mulia, begitu suci
Dan kau terpilih menjadi “Ainul Mardhiyah” di jannah-Nya
Ukhtiku...
Skenario Allah adalah skenario terbaik
Dan itu pula yang telah Ia skenariokan untuk kita
Karena Ia sedang mempersiapkan kita untuk lebih matang,
merenda hari esok seperti yang kita harapkan nantinya
Untuk membangun kembali peradaban ideal seperti cita kita
Ukhtiku...
Ku tahu kau merinduiku, bersabarlah saat indah 'kan menjelang jua
Saat kita akan disatukan dalam ikatan indah pernikahan
Apa kabarkah kau disana?
Lelahkah kau menungguku berkelana?
Lelahkah menungguku kau disana?
Bisa bertahankah kau disana?
Tetap bertahanlah kau disana...
Aku akan segera datang, sambutlah dengan senyum manismu
Bila waktu itu telah tiba,
kenakanlah mahkota itu,
kenakanlah gaun indah itu...
Masih banyak yang harus kucari, 'tuk bahagiakan hidup kita nanti...
Ukhtiku...
Malam ini terasa panjang dengan air mata yang mengalir
Hatiku terasa kelu dengan derita yang mendera,
kutahan derita malam ini sambil menghitung bintang
Cinta membuat hati terasa terpotong-potong
Jika di sana ada bintang yang menghilang,
mataku berpendar mencari bintang yang datang
Kalau memang kau pilihkan aku, tunggu sampai aku datang...
Ku awali hariku dengan tasbih, tahmid dan shalawat
Dan mendo'akanmu agar kau selalu sehat, bahagia,
dan mendapat yang terbaik dari-Nya
Aku tak pernah berharap, kau 'kan merindukan keberadaanku yang menyedihkan ini
Hanya dengan rasa rinduku padamu, kupertahankan hidup
Maka hanya dengan mengikuti jejak-jejak hatimu, ada arti kutelusuri hidup ini
Mungkin kau tak pernah sadar betapa mudahnya kau 'tuk dikagumi
Akulah orang yang 'kan selalu mengagumi, mengawasi, menjaga dan mencintaimu
Ukhtiku...
Saat ini ku hanya bisa mengagumimu,
hanya bisa merindukanmu
Dan tetaplah berharap, terus berharap
Berharap aku 'kan segera datang
Jangan pernah berhenti berharap,
Karena harapan-harapanlah yang membuat kita tetap hidup
Bila kau jadi istriku kelak,
jangan pernah berhenti memilikiku
dan mencintaiku hingga ujung waktu
Tunjukkan padaku kau 'kan selalu mencintaiku
Hanya engkau yang aku harap
Telah lama kuharap hadirmu di sini
Meski sulit, harus kudapatkan
Jika tidak kudapat di dunia...
'kan kukejar sang Ainul Mardhiyah yang menanti di surga
Ku akui cintaku tak hanya hinggap di satu tempat,
aku takut mungkin diriku terlalu liar bagimu
Namun sejujurnya, semua itu hanyalah persinggahan egoku,
pelarian perasaanku
dan sikapmu telah meluluhkan jiwaku
Waktu pun terus berlalu dan aku kian mengerti...
Apa yang akan ku hadapi
Dan apa yang harus kucari dalam hidup
Kurangkai sebuah tulisan sederhana ini,
untuk dirimu yang selalu bijaksana
Aku goreskan syair sederhana ini,
untuk dirimu yang selalu mempesona
Memahamiku dan mencintaiku apa adanya
Semoga Allah kekalkan nikmat ini bagiku dan bagimu
Semoga...
Kau terindah di antara bunga yang pernah aku miliki dahulu
Kau teranggun di antara dewi yang pernah aku temui dahulu
Kau berikan tanda penuh arti yang tak bisa aku mengerti
Kau bentangkan jalan penuh duri yang tak bisa aku lewati
Begitu indah kau tercipta bagi Adam
Begitu anggun kau terlahir sebagai Hawa
Kau terindah yang pernah kukagumi meski tak bisa aku miliki
Kau teranggun yang pernah kutemui meski tak bisa aku miliki
Ya Allah...
ringankanlah kerinduan yang mendera
kupanjatkan sepotong doa setiap waktu,
karena keinginan yang menyeruak di dalam diriku
Ya Allah...
ampuni segala kekhilafan hamba yang hina ini
ringankan langkah kami
beri kami kekuatan dan kemampuan
tuk melengkapkan setengah dien ini,
mengikuti sunnah RasulMu
jangan biarkan hati-hati kami
terus berkelana tak perpenghujung
yang hanya sia-sia dengan waktu dan kesempatan
yang telah Engkau berikan
Aamiin...
Wassalamu'alaikum Wr... Wb...
Penuh Cinta Selalu Untuk Selamanya, Fillah...
Assalammu'alaikum Wr... Wb...
Apa kabar calon istriku? Hope u well and do take care...
Allah selalu bersama kita
Ukhtiku...
Masihkah menungguku...?
Hm... menunggu, menanti atau whatever-lah yang sejenis dengan itu kata orang membosankan. Benarkah?!
Menunggu...
Hanya sedikit orang yang menganggapnya sebagai hal yang 'istimewa'
Dan bagiku, menunggu adalah hal istimewa
Karena banyak manfaat yang bisa dikerjakan dan yang diperoleh dari menunggu
Membaca, menulis, diskusi ringan, atau hal lain yang bermanfaat
Menunggu bisa juga dimanfaatkan untuk mengagungkan-Nya,
melihat fenomena kehidupan di sekitar tempat menunggu,
atau sekadar merenungi kembali hal yang telah terlewati
Eits, bukan berarti melamun sampai angong alias ngayal dengan pikiran kosong
Karena itu justru berbahaya, bisa mengundang makhluk dari 'dunia lain' masuk ke jiwa
Banyak hal lain yang bisa kau lakukan saat menunggu
Percayalah bahwa tak selamanya sendiri itu perih
Ngejomblo itu nikmat, jenderal!
Ups, itu judul tulisanku beberapa waktu lalu
Bahwa di masa penantian, kita sebenarnya bisa lebih produktif
Mumpung waktu kita masih banyak luang
Belum tersita dengan kehidupan rumah tangga
Jadi waktu kita untuk mencerahkan ummat lebih banyak
Karena permasalahan ummat saat ini pun makin banyak
Karenanya wahai bidadari dunia...
Maklumilah bila sampai saat ini aku belum datang
Bukan ku tak ingin, bukan ku tak mau, bukan ku menunda
Tapi persoalan yang mendera bangsa ini kian banyak dan kian rumit
Begitu banyak anak tak berdosa yang harus menderita karena busung lapar, kurang gizi, lumpuh layuh hingga muntaber
Belum lagi satu per satu kasus korupsi tingkat tinggi yang membuktikan bahwa negeri ini 'sarang tikus'
Ditambah lagi bencana demi bencana yang melanda negeri ini
Meski saat ini hidup untuk diri sendiri pun rasanya masih sulit
Namun seperti seorang ustadz pernah mengatakan bahwa hidup untuk orang lain adalah sebuah kemuliaan Memberi di saat kita sedang sangat kesusahan adalah pemberian terbaik
Bahwa kita belumlah hidup jika kita hanya hidup untuk diri sendiri
Ukhtiku...
Di mana pun engkau sekarang, janganlah gundah, janganlah gelisah
Telah kulihat wajahmu dan aku mengerti,
betapa merindunya dirimu akan hadirnya diriku di dalam hari-harimu
Percayalah padaku aku pun rindu akan hadirmu
Aku akan datang, tapi mungkin tidak sekarang
Karena jalan ini masih panjang
Banyak hal yang menghadang
Hatiku pun melagu dalam nada angan
Seolah sedetik tiada tersisakan
Resah hati tak mampu kuhindarkan
Tentang sekelebat bayang, tentang sepenggal masa depan
Karang asaku tiada 'kan terkikis dari panjang jalan perjuangan, hanya karena sebuah kegelisahan
Lebih baik mempersiapkan diri sebelum mengambil keputusan
Keputusan besar untuk datang kepadamu
Ukhtiku...
Jangan menangis, jangan bersedih, hapus keraguan di dalam hatimu
Percayalah pada-Nya, Yang Maha Pemberi Cinta,
bahwa ini hanya likuan hidup yang pasti berakhir
Yakinlah...saat itu pasti 'kan tiba
Tak usah kau risau karena makin memudarnya kecantikanmu
Karena kecantikan hati dan iman yang dicari
Tak usah kau resah karena makin hilangnya aura keindahan luarmu
Karena aura keimananlah yang utama
Itulah auramu yang memancarkan cahaya syurga,
merasuk dan menembus relung jiwa
Wahai perhiasan terindah...
Hidupmu jangan kau pertaruhkan, hanya karena kau lelah menunggu. Apalagi hanya demi sebuah pernikahan. Karena pernikahan tak dibangun dalam sesaat, tapi ia bisa hancur dalam sedetik. Seperti Kota Iraq yang dibangun ratusan tahun, tapi bisa hancur dalam waktu sekian hari.
Jangan pernah merasa, hidup ini tak adil
Kita tak akan pernah bisa mendapatkan semua yang kita inginkan dalam hidup
Pasrahkan inginmu sedalam qalbu, pada tahajjud malammu
Bariskan harapmu sepenuh rindumu, pada istikharah di shalat malammu
Pulanglah pada-Nya, ke dalam pelukan-Nya
Jika memang kau tak sempat bertemu diriku,
sungguh...itu karena dirimu begitu mulia, begitu suci
Dan kau terpilih menjadi “Ainul Mardhiyah” di jannah-Nya
Ukhtiku...
Skenario Allah adalah skenario terbaik
Dan itu pula yang telah Ia skenariokan untuk kita
Karena Ia sedang mempersiapkan kita untuk lebih matang,
merenda hari esok seperti yang kita harapkan nantinya
Untuk membangun kembali peradaban ideal seperti cita kita
Ukhtiku...
Ku tahu kau merinduiku, bersabarlah saat indah 'kan menjelang jua
Saat kita akan disatukan dalam ikatan indah pernikahan
Apa kabarkah kau disana?
Lelahkah kau menungguku berkelana?
Lelahkah menungguku kau disana?
Bisa bertahankah kau disana?
Tetap bertahanlah kau disana...
Aku akan segera datang, sambutlah dengan senyum manismu
Bila waktu itu telah tiba,
kenakanlah mahkota itu,
kenakanlah gaun indah itu...
Masih banyak yang harus kucari, 'tuk bahagiakan hidup kita nanti...
Ukhtiku...
Malam ini terasa panjang dengan air mata yang mengalir
Hatiku terasa kelu dengan derita yang mendera,
kutahan derita malam ini sambil menghitung bintang
Cinta membuat hati terasa terpotong-potong
Jika di sana ada bintang yang menghilang,
mataku berpendar mencari bintang yang datang
Kalau memang kau pilihkan aku, tunggu sampai aku datang...
Ku awali hariku dengan tasbih, tahmid dan shalawat
Dan mendo'akanmu agar kau selalu sehat, bahagia,
dan mendapat yang terbaik dari-Nya
Aku tak pernah berharap, kau 'kan merindukan keberadaanku yang menyedihkan ini
Hanya dengan rasa rinduku padamu, kupertahankan hidup
Maka hanya dengan mengikuti jejak-jejak hatimu, ada arti kutelusuri hidup ini
Mungkin kau tak pernah sadar betapa mudahnya kau 'tuk dikagumi
Akulah orang yang 'kan selalu mengagumi, mengawasi, menjaga dan mencintaimu
Ukhtiku...
Saat ini ku hanya bisa mengagumimu,
hanya bisa merindukanmu
Dan tetaplah berharap, terus berharap
Berharap aku 'kan segera datang
Jangan pernah berhenti berharap,
Karena harapan-harapanlah yang membuat kita tetap hidup
Bila kau jadi istriku kelak,
jangan pernah berhenti memilikiku
dan mencintaiku hingga ujung waktu
Tunjukkan padaku kau 'kan selalu mencintaiku
Hanya engkau yang aku harap
Telah lama kuharap hadirmu di sini
Meski sulit, harus kudapatkan
Jika tidak kudapat di dunia...
'kan kukejar sang Ainul Mardhiyah yang menanti di surga
Ku akui cintaku tak hanya hinggap di satu tempat,
aku takut mungkin diriku terlalu liar bagimu
Namun sejujurnya, semua itu hanyalah persinggahan egoku,
pelarian perasaanku
dan sikapmu telah meluluhkan jiwaku
Waktu pun terus berlalu dan aku kian mengerti...
Apa yang akan ku hadapi
Dan apa yang harus kucari dalam hidup
Kurangkai sebuah tulisan sederhana ini,
untuk dirimu yang selalu bijaksana
Aku goreskan syair sederhana ini,
untuk dirimu yang selalu mempesona
Memahamiku dan mencintaiku apa adanya
Semoga Allah kekalkan nikmat ini bagiku dan bagimu
Semoga...
Kau terindah di antara bunga yang pernah aku miliki dahulu
Kau teranggun di antara dewi yang pernah aku temui dahulu
Kau berikan tanda penuh arti yang tak bisa aku mengerti
Kau bentangkan jalan penuh duri yang tak bisa aku lewati
Begitu indah kau tercipta bagi Adam
Begitu anggun kau terlahir sebagai Hawa
Kau terindah yang pernah kukagumi meski tak bisa aku miliki
Kau teranggun yang pernah kutemui meski tak bisa aku miliki
Ya Allah...
ringankanlah kerinduan yang mendera
kupanjatkan sepotong doa setiap waktu,
karena keinginan yang menyeruak di dalam diriku
Ya Allah...
ampuni segala kekhilafan hamba yang hina ini
ringankan langkah kami
beri kami kekuatan dan kemampuan
tuk melengkapkan setengah dien ini,
mengikuti sunnah RasulMu
jangan biarkan hati-hati kami
terus berkelana tak perpenghujung
yang hanya sia-sia dengan waktu dan kesempatan
yang telah Engkau berikan
Aamiin...
Wassalamu'alaikum Wr... Wb...
Penuh Cinta Selalu Untuk Selamanya, Fillah...
Selasa, 28 September 2010
Sampah dan Perilaku Adaptif Warga Kota Jakarta*
Oleh: Dasril Guntara
Tentunya kita masih ingat tentang kasus daging sampah olahan yang menggegerkan ibu kota belakangan ini. Istilah ini muncul setelah diketahui beredarnya daging bekas sampah restaurant di salah satu pasar tradisional di Jakarta. Tidak pernah terbayangkan bahwa ada saja orang-orang yang tega bertindak senekat itu. Kasus ini pula kemudian mengingatkan kita pada realitas riil kehidupan warga Jakarta yang penuh sesak dengan beragam persoalan. Separah itu-kah kehidupan ibu kota? Jika memang demikian mungkin ada benarnya syair lagu “siapa suruh datang ke Jakarta...”. Pada dasarnya siapa pun berhak tinggal dan hidup di kota khususnya kota Jakarta yang memang punya daya pikat tersendiri. Bayangkan saja berapa besar jumlah penduduk kota Jakarta jika dibandingkan dengan luas wilayahnya. Tentu akan terlihat ketimpangan populasi apalagi jika dilakukan perbandingan jumlah populasi penduduk antar kota di Indonesia.
Fenomena menyampah warga Jakarta
Jakarta sebagai jantung Indonesia bagi kebanyakan orang adalah sumber penghidupan yang potensial baik secara sosial maupun ekonomi. Tidak heran jika kemudian Jakarta menjadi objek utama urbanisasi yang sangat dominan. Setiap tahun jumlah penduduk Jakarta semakin bertambah sementara ruang-ruang dalam kota tidak bertambah luas. Akibatnya Jakarta menjadi semakin sesak dipadati oleh mereka yang bermigrasi dari daerah-daerah di Indonesia. Dengan kata lain, pada kondisi ini Jakarta telah mendominasi daerah-daerah lain disekitarnya.
Fenomena ini pada kenyataanya membawa permasalahan tersendiri yang semakin lama kian kronis. Permasalahan yang paling mencolok secara fisik jelas terlihat dari aspek lingkungan hidup yakni fenomena sampah di ibu kota. Sampah di kota Jakarta bak tumpukan realitas yang mencerminkan perilaku sebenarnya dari warga. Kebiasaan masyarakat yang suka menyampah ini menjadi salah satu sumber penyebab banjir di Jakarta. Sekitar 40 persen dari 6.000 ton sampah yang dibuang lebih dari 12 juta penduduk Jakarta setiap harinya dibuang ke sungai (Samhadi, 2008). Selain itu Data Dinas Kebersihan DKI Jakarta menunjukkan, sekitar 15,3 persen dari 6.000 ton sampah, yang dihasilkan warga Jakarta, dibuang sembarangan. Sampah itu dibuang di jalan, kali atau sungai, dan taman kota. Selain mengotori lingkungan, timbunan sampah di sungai atau kali ikut memperparah banjir.
Jika wacana ini direfleksikan dalam tataran kognitif, mungkin muncul pertanyaan dalam benak mengapa terjadi fenomena sampah yang begitu memprihatinkan di kota yang seharunya menjadi citra Indonesia di mata internasional. Siapa yang harus bertanggung jawab atas fenomena ini, lebih-lebih jika persoalanya sudah merambah pada permasalahan kesehatan dan bencana alam. Ironisnya, masih saja masyarakat mengeluhkan hal ini terjadi karena sampah tanpa pernah berfikir siapa yang telah menghadirkan sampah dan membuat sampah menjadi bencana bagi dirinya. Akhirnya sampah dijadikan kambing hitam atas degredasi moral dan etika serta minimnya kesadaran terhadap lingkungan hidup pada diri manusia.
Pola perlilaku menyampah
Menurut S. Kaplan dalam buku Psikologi Lingkungan (Sarwono, 1992) bahwa manusia itu pada dasarnya adalah mahkluk yang berakal sehat (man is reasonable person). Sebagai makhluk berakal sehat, maka ia selalu ingin menggunakan akal sehatnya, namun ia tidak selalu dapat melakukannya. Hal ini bergantung pada faktor yang mempengaruhinya seperti situasi dan kondisi lingkungan. Masih menurut S. Kaplan bahwa manusia sebagai makhluk berakal sehat berbeda dari manusia sebagai makhluk rasional. Selanjutnya menurut Prof. Sarlito Wirawan Sarwono (pakar psikologi) bahwa rasio tidak bergantung pada situasi, sedangkan akal sehat bergantung pada situasi (Kumurur, 2006). Misalnya apabila seseorang membuang sampah sembarangan, ia akan mengotori lingkungan dan hal ini berlaku dimana dan kapan saja. Namun, jika suatu ketika orang itu berada di tempat yang memang sudah kotor dan penuh dengan sampah, akal sehatnya berkata bahwa tidak apalah ia menambah sedikit sampah lagi di tempat itu daripada dia harus membawanya ke tempat sampah yang belum tentu ada di sekitar tempat itu. Sebaliknya ketika ia berada di tempat yang terjaga kebersihannya, akal sehatnya mengatakan bahwa ia tidak layak mengotori tempat itu.
Konteks ini menggambarkan adanya hubungan pola perilaku manusia dengan lingkungan sekitarnya. Baik itu lingkungan fisik maupun sosial, keduanya merupakan elemen yang saling mendukung menciptakan warna budaya dari komunitas manusia yang bersangkutan. Kota dalam hal ini merupakan suatu areal lingkungan yang berkembang dengan bebagai ornamen fisik yang menghiasi mozaik kehidupan warganya. Corak budaya serta karakter kehidupan perkotaan jelas berbeda dengan pola-pola yang ada dipedesaan. Dalam perkembangannya manusia telah merubah atau menciptakan lingkungan alam/fisik menjadi lingkungan budaya, manusia sebenarnya telah menata dan menggunakan ruang-ruang yang ada dalam lingkungan alam/fisik tersebut dengan konsep-konsep kebudayaannya dalam usahanya untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhannya sehingga fungsional dalam struktur kehidupannya (Suparlan, 2004). Oleh karena itu budaya yang terbentuk dalam masyarakat perkotaan merupakan sebuah sintesa dari interpretasi masyarakatnya terhadap lingkungan yang mereka representasikan. Begitu halnya dengan perilaku menyampah warga kota, bisa disimpulkan hal ini merupakan refleksi dari cerminan budaya warga ibu kota terhadap tempat tinggal mereka. Dengan kata lain muncul asumsi dimana perilaku menyampah merupakan suatu cara warga kota dalam beradaptasi dengan lingkungan kota. Namun perlu diperhatikan juga dengan kondisi lingkungan, sebab dalam hal ini lingkungan menjadi faktor yang penting dalam menciptakan paradigma “mengkota” bagi para warga kota. Adakalanya ketika lingkungan bersih justru menciptakan pola kehidupan masyarakat yang bersih dan itu pun juga merupakan cara mereka untuk beradaptasi dengan lingkungan.
Adaptasi warga kota Jakarta
Vayda (1983) mengatakan bahwa asumsi umum perilaku manusia yang mempengaruhi lingkungan adalah ditentukan oleh konseptualisasi dasar atau keutamaan nilai-nilai alam/lingkungan. Alam selalu dinterpretasikan keberadaannya oleh manusia. Dalam mencari penjelasan dalam memahami perilaku manusia sehubungan interaksinya terhadap alam dan mengapa mereka melakukan hal-hal tertentu, maka bukan nilai-nilai dasar yang menjadi fokus perhatian melainkan lebih kepada konteks apa yang mereka lakukan. Hal ini dikarenakan ada hal yang terkadang juga perlu diperhatikan yakni kerusakan lingkungan yang tidak disengaja. Bulmer juga mengatakan bahwa dalam penelitian mengenai perilaku manusia dan efeknya terhadap lingkungan adalah dengan tidak memperhatikan pada nilai dasar atau tataran ideal akan tetapi sebaiknya lebih memperhatikan pada tindakan-tindakan manusia, tujuan mereka melakukan tindakan tersebut dan perhatian mereka akan tidakan tersebut terhadap lingkungan
Berkenaan dengan permasalahan perilaku menyampah maka tidak berlebihan manakala hal ini dilihat pada konteks adaptasi. Potensi adaptasi dalam perilaku menyampah menjadi sangat menarik untuk diperbincangkan. Adaptasi sebagai proses perilaku yang biasa dilakukan manusia karena didasari pada faktor psikologi untuk mengantisipasi masadepan, kenangan-kenangan dan lembaran-lembaran yang akan terjadi kedepan (Bennet, 1980:251). Adaptasi juga merupakan suatu proses yang dinamis karena baik organisme maupun lingkungan sendiri tidak ada yang bersifat konstan/tetap (Hardestry,45-46). Sedangkan Roy Ellen membagi tahapan adaptasi dalam 4 tipe. Antara lain adalah (1) tahapan phylogenetic yang bekerja melalui adaptasi genetik individu lewat seleksi alam, (2) modifikasi fisik dari phenotype/ciri-ciri fisik, (3) proses belajar, dan (4) modifikasi kultural. Modifikasi budaya bagi Ellen menjadi supreme atau yang teratas bagi homo sapiens, dimana adaptasi budaya dan transmisi informasi dikatakannya sebagai pemberi karakter spesifik yang dominan. Manusia dilahirkan dengan kapasitas untuk belajar seperangkat sosial dan kaidah-kaidah budaya yang tidak terbatas. Sehingga kemudian fokus perhatian adaptasi menurut Rot Ellen seharusnya dipusatkan pada proses belajar, dan modifikasi budayanya (Prasetijo, 2008).
Pilihan rasional menyampah
Dalam melihat sutu proses adaptasi dari sudut pandang lingkungan, dapat dirasakan bahwa individu maupun kelompok disini adalah unit yang melakukan sejumlah rangkaian pilihan teknik alternatif maupun pola-pola strategi tententu dimana masing-masing variannya memiliki sejumlah konsekuensi tertentu terahadap sumberdaya dan lingkungan secara umum. Pedoman dalam prinsip perilaku manusia pada konteks menggunakan atau menyalahgunakan sumberdaya alamnya adalah merupakan suatu pilihan rasional dalam mencapai tujuan alternatif dan strategi bertahan mereka. Sepertihalnya dalam kebiasan menyampah warga kota Jakarta, tindakan seperti ini bisa jadi merupakan suatu bentuk pilihan rasional untuk beradaptasi dengan lingkungan kota yang semakin jorok, kotor, dan jauh dari kesan indah.
Menyampah sebagai suatu bentuk copyng behaviour
Menurut Bennett, adaptasi merupakan suatu cara untuk mengkonseptualisasikan sebuah proses dimana di dalamnya terdapat suatu kesatuan dari beberapa tingkatan atau dimensi permasalahan sumberdaya yang digunakan maupun yang diselewengkan. Kapasitas individu dalam bersinergis dengan lingkungannya dapat didefinisikan sebagai suatu adaptasi demikian halnya kapasitas kelompok masyarakat untuk dapat bertahan dan melakukan perubahan terhadap lingkungan juga dapat didefinisikan sebagai suatu adaptasi.
Sementara disisi lain pada hakikatnya alam/lingkungan fisik bersifat open acces yakni terbuka bagi siapa pun untuk mengkases. Maka ketika tidak ada aturan yang mengatur batasan intervensi pada suatu lingkungan yang muncul adalah perilaku ekspolitatif. Perilaku ekspolitatif merupakan wujud dari sifat dasar manusia yang tidak pernah puas serta selalu mencari cara unutk memenuhi kepuasanya tersebut. Permasalahan beradaptasi pada warga Jakarta bisa dibilang merupakan suatu bentuk adaptasi yang lebih kearah pada perilaku meniru (copyng behaviour). Perilaku meniru menurut Bennet dapat didefinisikan sebagai suatu perilaku individu yang menyesuaikan diri dari tekanan lingkungan sekitar. Yang memebedakannya dari strategi adaptif adalah dimensi pelakunya dimana dalam adaptasi lebih kearah perilaku sejumlah orang dalam suatu kelompok sosial tertentu sementara dalam perilaku meniru subjek pelakunya adalah individu. Selain itu strategi adaptasi sangat memperhatikan hasil atau tujuan-tujuan tertentu sebagaimana yang dikatakan oleh Bennett yakni pedoman dalam prinsip perilaku manusia pada konteks menggunakan atau menyalahgunakan sumberdaya alamnya adalah merupakan suatu pilihan rasional dalam mencapai tujuan alternatif dan strategi bertahan mereka. Akan tetapi hal ini tidak terjadi dalam perilaku meniru atau stategi koping yang tidak memperhatikan hasil (folekman, 1984). Secara konseptual maka pola hubungan yang terjadi adalah seperti berikut: Individual→ copying behavior → adjustive process
Dari pola tersebut maka sebagai contoh dapat dilihat pada kasus perilaku meyalahgunakan fungsi kali pada masyarakat kota Jakarta yang tinggal di bantaran kali Ciliwung. Banyak orang yang memanfaatkan kali untuk membuang sampah atau limbah rumah tangga akibatnya kali menjadi tercemar dan ekosistemnya rusak, selain itu juga membahayakan kesehatan mereka sendiri. Kondisi ini diperparah dengan adanya gejala urbanisasi yang tidak terkendali, dimana mereka yang datang dari daerah di luar kota Jakarta dan tidak memiliki atau memperoleh akses terhadap tempat tinggal memilih untuk tinggal di bantaran kali yang jauh lebih terjangkau secara ekonomi. Permasalahnya orang daerah atau desa tertentu yang bisa jadi sewaktu di desa -dimana umumnya mereka hidup ber-simbiosa secara mutualistik dengan alam, harus berhadapan dengan kanyataan hidup di bantaran kali dengan berbagai realitas budayanya. Maka mau tidak mau mereka juga meniru perilaku kebanyakan orang yang tinggal disana. Perilaku yang demikian adalah suatu tindakan yang dilakukan tanpa memperhatikan dampak yang akan terjadi sekalipun mereka tahu bahayanya. Akan tetapi tuntutan lingkungan sosial sekaligus kondisi lingkungan secara fisik yang sudah terlajur rusak semakin membenarkan logika berfikir mereka yang tidak mementingakan bahaya alam akibat kerusakan ekologis.
Ketika hal-hal semacam ini banyak terjadi dalam skala massif dan sudah menjadi tradisi tahunan maka wajar bila Jakarta semakin semrawut. Jakarta tidak hanya disesaki oleh para kaum urban tapi juga sampah-sampah yang setiap saat mereka hasilkan. Keaadaan ini kian memperburuk lingkungan kota Jakarta yang bertambah suram dan miris dengan sampah-sampah menghiasi ruang-ruang fisiknya. Bukan hanya itu, dampaknya yang lain adalah disharmonisasi ekologis yang berpotensi mendatangkan bencana apapun ke dalam dimensi kehidupan warga kota Jakarta sendiri. Jadi siapa suruh datang ke Jakarta…
Daftar Referensi
Ribot, J. C.& N.L. Peluso (2003). “A Theory of Access,“ dalam Rural Sociology 68/2:153-170
Vayda, A.P.(1983). ”Progressive Contextualization: Methods for Research in Human Ecology.” Human ecology 11/3:m 265-281
Bennett, J. W.(1980). “Human Ecology as Human Behavior: a Normative Anthropology of Resource Use and Abuse,“ dalam Altman , I., et al, eds. Human Beahvior and Environment. Advances in Theory and Research. New York: Plenum Press.
Suparlan, Parsudi. Masyarakat dan kebudayaan perkotaan: perspeketif antropologi perkotaan. Jakarta: YPKIK, 2004
Samhadi, Sri Hartarti. Ibu Kota Menyongsong Banjir. www.kompas.com. Dikases 19 September 2008
*) Di presentasikan dalam Seminar yang diselenggarakan Departemen Antropologi FISIP UI dengan tema “Sampah dan Masalah Lingkungan Hidup di Daerah Perkotaan: Sebuah Tinjauan Antropologi”. 23 September 2008 bertempat di Auditorium Jiwa Bumiputera, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Indonesia
Tentunya kita masih ingat tentang kasus daging sampah olahan yang menggegerkan ibu kota belakangan ini. Istilah ini muncul setelah diketahui beredarnya daging bekas sampah restaurant di salah satu pasar tradisional di Jakarta. Tidak pernah terbayangkan bahwa ada saja orang-orang yang tega bertindak senekat itu. Kasus ini pula kemudian mengingatkan kita pada realitas riil kehidupan warga Jakarta yang penuh sesak dengan beragam persoalan. Separah itu-kah kehidupan ibu kota? Jika memang demikian mungkin ada benarnya syair lagu “siapa suruh datang ke Jakarta...”. Pada dasarnya siapa pun berhak tinggal dan hidup di kota khususnya kota Jakarta yang memang punya daya pikat tersendiri. Bayangkan saja berapa besar jumlah penduduk kota Jakarta jika dibandingkan dengan luas wilayahnya. Tentu akan terlihat ketimpangan populasi apalagi jika dilakukan perbandingan jumlah populasi penduduk antar kota di Indonesia.
Fenomena menyampah warga Jakarta
Jakarta sebagai jantung Indonesia bagi kebanyakan orang adalah sumber penghidupan yang potensial baik secara sosial maupun ekonomi. Tidak heran jika kemudian Jakarta menjadi objek utama urbanisasi yang sangat dominan. Setiap tahun jumlah penduduk Jakarta semakin bertambah sementara ruang-ruang dalam kota tidak bertambah luas. Akibatnya Jakarta menjadi semakin sesak dipadati oleh mereka yang bermigrasi dari daerah-daerah di Indonesia. Dengan kata lain, pada kondisi ini Jakarta telah mendominasi daerah-daerah lain disekitarnya.
Fenomena ini pada kenyataanya membawa permasalahan tersendiri yang semakin lama kian kronis. Permasalahan yang paling mencolok secara fisik jelas terlihat dari aspek lingkungan hidup yakni fenomena sampah di ibu kota. Sampah di kota Jakarta bak tumpukan realitas yang mencerminkan perilaku sebenarnya dari warga. Kebiasaan masyarakat yang suka menyampah ini menjadi salah satu sumber penyebab banjir di Jakarta. Sekitar 40 persen dari 6.000 ton sampah yang dibuang lebih dari 12 juta penduduk Jakarta setiap harinya dibuang ke sungai (Samhadi, 2008). Selain itu Data Dinas Kebersihan DKI Jakarta menunjukkan, sekitar 15,3 persen dari 6.000 ton sampah, yang dihasilkan warga Jakarta, dibuang sembarangan. Sampah itu dibuang di jalan, kali atau sungai, dan taman kota. Selain mengotori lingkungan, timbunan sampah di sungai atau kali ikut memperparah banjir.
Jika wacana ini direfleksikan dalam tataran kognitif, mungkin muncul pertanyaan dalam benak mengapa terjadi fenomena sampah yang begitu memprihatinkan di kota yang seharunya menjadi citra Indonesia di mata internasional. Siapa yang harus bertanggung jawab atas fenomena ini, lebih-lebih jika persoalanya sudah merambah pada permasalahan kesehatan dan bencana alam. Ironisnya, masih saja masyarakat mengeluhkan hal ini terjadi karena sampah tanpa pernah berfikir siapa yang telah menghadirkan sampah dan membuat sampah menjadi bencana bagi dirinya. Akhirnya sampah dijadikan kambing hitam atas degredasi moral dan etika serta minimnya kesadaran terhadap lingkungan hidup pada diri manusia.
Pola perlilaku menyampah
Menurut S. Kaplan dalam buku Psikologi Lingkungan (Sarwono, 1992) bahwa manusia itu pada dasarnya adalah mahkluk yang berakal sehat (man is reasonable person). Sebagai makhluk berakal sehat, maka ia selalu ingin menggunakan akal sehatnya, namun ia tidak selalu dapat melakukannya. Hal ini bergantung pada faktor yang mempengaruhinya seperti situasi dan kondisi lingkungan. Masih menurut S. Kaplan bahwa manusia sebagai makhluk berakal sehat berbeda dari manusia sebagai makhluk rasional. Selanjutnya menurut Prof. Sarlito Wirawan Sarwono (pakar psikologi) bahwa rasio tidak bergantung pada situasi, sedangkan akal sehat bergantung pada situasi (Kumurur, 2006). Misalnya apabila seseorang membuang sampah sembarangan, ia akan mengotori lingkungan dan hal ini berlaku dimana dan kapan saja. Namun, jika suatu ketika orang itu berada di tempat yang memang sudah kotor dan penuh dengan sampah, akal sehatnya berkata bahwa tidak apalah ia menambah sedikit sampah lagi di tempat itu daripada dia harus membawanya ke tempat sampah yang belum tentu ada di sekitar tempat itu. Sebaliknya ketika ia berada di tempat yang terjaga kebersihannya, akal sehatnya mengatakan bahwa ia tidak layak mengotori tempat itu.
Konteks ini menggambarkan adanya hubungan pola perilaku manusia dengan lingkungan sekitarnya. Baik itu lingkungan fisik maupun sosial, keduanya merupakan elemen yang saling mendukung menciptakan warna budaya dari komunitas manusia yang bersangkutan. Kota dalam hal ini merupakan suatu areal lingkungan yang berkembang dengan bebagai ornamen fisik yang menghiasi mozaik kehidupan warganya. Corak budaya serta karakter kehidupan perkotaan jelas berbeda dengan pola-pola yang ada dipedesaan. Dalam perkembangannya manusia telah merubah atau menciptakan lingkungan alam/fisik menjadi lingkungan budaya, manusia sebenarnya telah menata dan menggunakan ruang-ruang yang ada dalam lingkungan alam/fisik tersebut dengan konsep-konsep kebudayaannya dalam usahanya untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhannya sehingga fungsional dalam struktur kehidupannya (Suparlan, 2004). Oleh karena itu budaya yang terbentuk dalam masyarakat perkotaan merupakan sebuah sintesa dari interpretasi masyarakatnya terhadap lingkungan yang mereka representasikan. Begitu halnya dengan perilaku menyampah warga kota, bisa disimpulkan hal ini merupakan refleksi dari cerminan budaya warga ibu kota terhadap tempat tinggal mereka. Dengan kata lain muncul asumsi dimana perilaku menyampah merupakan suatu cara warga kota dalam beradaptasi dengan lingkungan kota. Namun perlu diperhatikan juga dengan kondisi lingkungan, sebab dalam hal ini lingkungan menjadi faktor yang penting dalam menciptakan paradigma “mengkota” bagi para warga kota. Adakalanya ketika lingkungan bersih justru menciptakan pola kehidupan masyarakat yang bersih dan itu pun juga merupakan cara mereka untuk beradaptasi dengan lingkungan.
Adaptasi warga kota Jakarta
Vayda (1983) mengatakan bahwa asumsi umum perilaku manusia yang mempengaruhi lingkungan adalah ditentukan oleh konseptualisasi dasar atau keutamaan nilai-nilai alam/lingkungan. Alam selalu dinterpretasikan keberadaannya oleh manusia. Dalam mencari penjelasan dalam memahami perilaku manusia sehubungan interaksinya terhadap alam dan mengapa mereka melakukan hal-hal tertentu, maka bukan nilai-nilai dasar yang menjadi fokus perhatian melainkan lebih kepada konteks apa yang mereka lakukan. Hal ini dikarenakan ada hal yang terkadang juga perlu diperhatikan yakni kerusakan lingkungan yang tidak disengaja. Bulmer juga mengatakan bahwa dalam penelitian mengenai perilaku manusia dan efeknya terhadap lingkungan adalah dengan tidak memperhatikan pada nilai dasar atau tataran ideal akan tetapi sebaiknya lebih memperhatikan pada tindakan-tindakan manusia, tujuan mereka melakukan tindakan tersebut dan perhatian mereka akan tidakan tersebut terhadap lingkungan
Berkenaan dengan permasalahan perilaku menyampah maka tidak berlebihan manakala hal ini dilihat pada konteks adaptasi. Potensi adaptasi dalam perilaku menyampah menjadi sangat menarik untuk diperbincangkan. Adaptasi sebagai proses perilaku yang biasa dilakukan manusia karena didasari pada faktor psikologi untuk mengantisipasi masadepan, kenangan-kenangan dan lembaran-lembaran yang akan terjadi kedepan (Bennet, 1980:251). Adaptasi juga merupakan suatu proses yang dinamis karena baik organisme maupun lingkungan sendiri tidak ada yang bersifat konstan/tetap (Hardestry,45-46). Sedangkan Roy Ellen membagi tahapan adaptasi dalam 4 tipe. Antara lain adalah (1) tahapan phylogenetic yang bekerja melalui adaptasi genetik individu lewat seleksi alam, (2) modifikasi fisik dari phenotype/ciri-ciri fisik, (3) proses belajar, dan (4) modifikasi kultural. Modifikasi budaya bagi Ellen menjadi supreme atau yang teratas bagi homo sapiens, dimana adaptasi budaya dan transmisi informasi dikatakannya sebagai pemberi karakter spesifik yang dominan. Manusia dilahirkan dengan kapasitas untuk belajar seperangkat sosial dan kaidah-kaidah budaya yang tidak terbatas. Sehingga kemudian fokus perhatian adaptasi menurut Rot Ellen seharusnya dipusatkan pada proses belajar, dan modifikasi budayanya (Prasetijo, 2008).
Pilihan rasional menyampah
Dalam melihat sutu proses adaptasi dari sudut pandang lingkungan, dapat dirasakan bahwa individu maupun kelompok disini adalah unit yang melakukan sejumlah rangkaian pilihan teknik alternatif maupun pola-pola strategi tententu dimana masing-masing variannya memiliki sejumlah konsekuensi tertentu terahadap sumberdaya dan lingkungan secara umum. Pedoman dalam prinsip perilaku manusia pada konteks menggunakan atau menyalahgunakan sumberdaya alamnya adalah merupakan suatu pilihan rasional dalam mencapai tujuan alternatif dan strategi bertahan mereka. Sepertihalnya dalam kebiasan menyampah warga kota Jakarta, tindakan seperti ini bisa jadi merupakan suatu bentuk pilihan rasional untuk beradaptasi dengan lingkungan kota yang semakin jorok, kotor, dan jauh dari kesan indah.
Menyampah sebagai suatu bentuk copyng behaviour
Menurut Bennett, adaptasi merupakan suatu cara untuk mengkonseptualisasikan sebuah proses dimana di dalamnya terdapat suatu kesatuan dari beberapa tingkatan atau dimensi permasalahan sumberdaya yang digunakan maupun yang diselewengkan. Kapasitas individu dalam bersinergis dengan lingkungannya dapat didefinisikan sebagai suatu adaptasi demikian halnya kapasitas kelompok masyarakat untuk dapat bertahan dan melakukan perubahan terhadap lingkungan juga dapat didefinisikan sebagai suatu adaptasi.
Sementara disisi lain pada hakikatnya alam/lingkungan fisik bersifat open acces yakni terbuka bagi siapa pun untuk mengkases. Maka ketika tidak ada aturan yang mengatur batasan intervensi pada suatu lingkungan yang muncul adalah perilaku ekspolitatif. Perilaku ekspolitatif merupakan wujud dari sifat dasar manusia yang tidak pernah puas serta selalu mencari cara unutk memenuhi kepuasanya tersebut. Permasalahan beradaptasi pada warga Jakarta bisa dibilang merupakan suatu bentuk adaptasi yang lebih kearah pada perilaku meniru (copyng behaviour). Perilaku meniru menurut Bennet dapat didefinisikan sebagai suatu perilaku individu yang menyesuaikan diri dari tekanan lingkungan sekitar. Yang memebedakannya dari strategi adaptif adalah dimensi pelakunya dimana dalam adaptasi lebih kearah perilaku sejumlah orang dalam suatu kelompok sosial tertentu sementara dalam perilaku meniru subjek pelakunya adalah individu. Selain itu strategi adaptasi sangat memperhatikan hasil atau tujuan-tujuan tertentu sebagaimana yang dikatakan oleh Bennett yakni pedoman dalam prinsip perilaku manusia pada konteks menggunakan atau menyalahgunakan sumberdaya alamnya adalah merupakan suatu pilihan rasional dalam mencapai tujuan alternatif dan strategi bertahan mereka. Akan tetapi hal ini tidak terjadi dalam perilaku meniru atau stategi koping yang tidak memperhatikan hasil (folekman, 1984). Secara konseptual maka pola hubungan yang terjadi adalah seperti berikut: Individual→ copying behavior → adjustive process
Dari pola tersebut maka sebagai contoh dapat dilihat pada kasus perilaku meyalahgunakan fungsi kali pada masyarakat kota Jakarta yang tinggal di bantaran kali Ciliwung. Banyak orang yang memanfaatkan kali untuk membuang sampah atau limbah rumah tangga akibatnya kali menjadi tercemar dan ekosistemnya rusak, selain itu juga membahayakan kesehatan mereka sendiri. Kondisi ini diperparah dengan adanya gejala urbanisasi yang tidak terkendali, dimana mereka yang datang dari daerah di luar kota Jakarta dan tidak memiliki atau memperoleh akses terhadap tempat tinggal memilih untuk tinggal di bantaran kali yang jauh lebih terjangkau secara ekonomi. Permasalahnya orang daerah atau desa tertentu yang bisa jadi sewaktu di desa -dimana umumnya mereka hidup ber-simbiosa secara mutualistik dengan alam, harus berhadapan dengan kanyataan hidup di bantaran kali dengan berbagai realitas budayanya. Maka mau tidak mau mereka juga meniru perilaku kebanyakan orang yang tinggal disana. Perilaku yang demikian adalah suatu tindakan yang dilakukan tanpa memperhatikan dampak yang akan terjadi sekalipun mereka tahu bahayanya. Akan tetapi tuntutan lingkungan sosial sekaligus kondisi lingkungan secara fisik yang sudah terlajur rusak semakin membenarkan logika berfikir mereka yang tidak mementingakan bahaya alam akibat kerusakan ekologis.
Ketika hal-hal semacam ini banyak terjadi dalam skala massif dan sudah menjadi tradisi tahunan maka wajar bila Jakarta semakin semrawut. Jakarta tidak hanya disesaki oleh para kaum urban tapi juga sampah-sampah yang setiap saat mereka hasilkan. Keaadaan ini kian memperburuk lingkungan kota Jakarta yang bertambah suram dan miris dengan sampah-sampah menghiasi ruang-ruang fisiknya. Bukan hanya itu, dampaknya yang lain adalah disharmonisasi ekologis yang berpotensi mendatangkan bencana apapun ke dalam dimensi kehidupan warga kota Jakarta sendiri. Jadi siapa suruh datang ke Jakarta…
Daftar Referensi
Ribot, J. C.& N.L. Peluso (2003). “A Theory of Access,“ dalam Rural Sociology 68/2:153-170
Vayda, A.P.(1983). ”Progressive Contextualization: Methods for Research in Human Ecology.” Human ecology 11/3:m 265-281
Bennett, J. W.(1980). “Human Ecology as Human Behavior: a Normative Anthropology of Resource Use and Abuse,“ dalam Altman , I., et al, eds. Human Beahvior and Environment. Advances in Theory and Research. New York: Plenum Press.
Suparlan, Parsudi. Masyarakat dan kebudayaan perkotaan: perspeketif antropologi perkotaan. Jakarta: YPKIK, 2004
Samhadi, Sri Hartarti. Ibu Kota Menyongsong Banjir. www.kompas.com. Dikases 19 September 2008
*) Di presentasikan dalam Seminar yang diselenggarakan Departemen Antropologi FISIP UI dengan tema “Sampah dan Masalah Lingkungan Hidup di Daerah Perkotaan: Sebuah Tinjauan Antropologi”. 23 September 2008 bertempat di Auditorium Jiwa Bumiputera, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Indonesia
Senin, 27 September 2010
KEMATIAN HATI
oleh: KH. Rahmat Abdullah
Banyak orang tertawa tanpa (mau) menyadari sang maut sedang mengintainya.Banyak orang cepat datang ke shaf shalat layaknya orang yang amat merindukan kekasih. Sayang ternyata ia datang tergesa-gesa hanya agar dapat segera pergi.
Seperti penagih hutang yang kejam ia perlakukan Tuhannya. Ada yang datang sekedar memenuhi tugas rutin mesin agama. Dingin, kering dan hampa, tanpa penghayatan. Hilang tak dicari, ada tak disyukuri.
Dari jahil engkau disuruh berilmu dan tak ada idzin untuk berhenti hanya pada ilmu. Engkau dituntut beramal dengan ilmu yang ALLAH berikan. Tanpa itu alangkah besar kemurkaan ALLAH atasmu.
Tersanjungkah engkau yang pandai bercakap tentang keheningan senyap ditingkah rintih istighfar, kecupak air wudlu di dingin malam, lapar perut karena shiam atau kedalaman munajat dalam rakaat-rakaat panjang.
Tersanjungkah engkau dengan licin lidahmu bertutur, sementara dalam hatimu tak ada apa-apa. Kau kunyah mitos pemberian masyarakat dan sangka baik orang-orang berhati jernih, bahwa engkau adalah seorang saleh, alim, abid lagi mujahid, lalu puas meyakini itu tanpa rasa ngeri.
Asshiddiq Abu Bakar Ra. selalu gemetar saat dipuji orang. “Ya ALLAH, jadikan diriku lebih baik daripada sangkaan mereka, janganlah Engkau hukum aku karena ucapan mereka dan ampunilah daku lantaran ketidaktahuan mereka”, ucapnya lirih.
Ada orang bekerja keras dengan mengorbankan begitu banyak harta dan dana, lalu ia lupakan semua itu dan tak pernah mengenangnya lagi. Ada orang beramal besar dan selalu mengingat-ingatnya, bahkan sebagian menyebut-nyebutnya. Ada orang beramal sedikit dan mengklaim amalnya sangat banyak. Dan ada orang yang sama sekali tak pernah beramal, lalu merasa banyak amal dan menyalahkan orang yang beramal, karena kekurangan atau ketidaksesuaian amal mereka dengan lamunan pribadinya, atau tidak mau kalah dan tertinggal di belakang para pejuang. Mereka telah menukar kerja dengan kata. Dimana kau letakkan dirimu? Saat kecil, engkau begitu takut gelap, suara dan segala yang asing. Begitu kerap engkau bergetar dan takut.
Sesudah pengalaman dan ilmu makin bertambah, engkaupun berani tampil di depan seorang kaisar tanpa rasa gentar. Semua sudah jadi biasa, tanpa rasa. Telah berapa hari engkau hidup dalam lumpur yang membunuh hatimu sehingga getarannya tak terasa lagi saat ma’siat menggodamu dan engkau meni’matinya?
Malam-malam berharga berlalu tanpa satu rakaatpun kau kerjakan. Usia berkurang banyak tanpa jenjang kedewasaan ruhani meninggi. Rasa malu kepada ALLAH, dimana kau kubur dia?
Di luar sana rasa malu tak punya harga. Mereka jual diri secara terbuka lewat layar kaca, sampul majalah atau bahkan melalui penawaran langsung. Ini potret negerimu : 228.000 remaja mengidap putau. Dari 1500 responden usia SMP & SMU, 25 % mengaku telah berzina dan hampir separohnya setuju remaja berhubungan seks di luar nikah asal jangan dengan perkosaan. Mungkin engkau mulai berfikir “Jamaklah, bila aku main mata dengan aktifis perempuan bila engkau laki-laki atau sebaliknya di celah-celah rapat atau berdialog dalam jarak sangat dekat atau bertelepon dengan menambah waktu yang tak kauperlukan sekedar melepas kejenuhan dengan canda jarak jauh” Betapa jamaknya ‘dosa kecil’ itu dalam hatimu.
Ke mana getarannya yang gelisah dan terluka dulu, saat “TV Thaghut” menyiarkan segala “kesombongan jahiliyah dan maksiat”?
Saat engkau muntah melihat laki-laki (banci) berpakaian perempuan, karena kau sangat mendukung ustadzmu yang mengatakan ” Jika ALLAH melaknat laki-laki berbusana perempuan dan perempuan berpakaian laki-laki, apa tertawa riang menonton akting mereka tidak dilaknat ?” Ataukah taqwa berlaku saat berkumpul bersama, lalu yang berteriak paling lantang “Ini tidak islami” berarti ia paling islami, sesudah itu urusan tinggallah antara engkau dengan dirimu, tak ada ALLAH disana? Sekarang kau telah jadi kader hebat. Tidak lagi malu-malu tampil.
Justeru engkau akan dihadang tantangan: sangat malu untuk menahan tanganmu dari jabatan tangan lembut lawan jenismu yang muda dan segar. Hati yang berbunga-bunga didepan ribuan massa.
Semua gerak harus ditakar dan jadilah pertimbanganmu tergadai pada kesukaan atau kebencian orang, walaupun harus mengorbankan nilai terbaik yang kau miliki. Lupakah engkau, jika bidikanmu ke sasaran tembak meleset 1 milimeter, maka pada jarak 300 meter dia tidak melenceng 1 milimeter lagi ? Begitu jauhnya inhiraf di kalangan awam, sedikit banyak karena para elitenya telah salah melangkah lebih dulu.
Siapa yang mau menghormati ummat yang “kiayi”nya membayar beberapa ratus ribu kepada seorang perempuan yang beberapa menit sebelumnya ia setubuhi di sebuah kamar hotel berbintang, lalu dengan enteng mengatakan “Itu maharku, ALLAH waliku dan malaikat itu saksiku” dan sesudah itu segalanya selesai, berlalu tanpa rasa bersalah?
Siapa yang akan memandang ummat yang da’inya berpose lekat dengan seorang perempuan muda artis penyanyi lalu mengatakan “Ini anakku, karena kedudukan guru dalam Islam adalah ayah, bahkan lebih dekat daripada ayah kandung dan ayah mertua” Akankah engkau juga menambah barisan kebingungan ummat lalu mendaftar diri sebagai ‘alimullisan (alim di lidah)? Apa kau fikir sesudah semua kedangkalan ini kau masih aman dari kemungkinan jatuh ke lembah yang sama?
Apa beda seorang remaja yang menzinai teman sekolahnya dengan seorang alim yang merayu rekan perempuan dalam aktifitas da’wahnya? Akankah kau andalkan penghormatan masyarakat awam karena statusmu lalu kau serang maksiat mereka yang semakin tersudut oleh retorikamu yang menyihir ? Bila demikian, koruptor macam apa engkau ini? Pernah kau lihat sepasang mami dan papi dengan anak remaja mereka. Tengoklah langkah mereka di mal. Betapa besar sumbangan mereka kepada modernisasi dengan banyak-banyak mengkonsumsi produk junk food, semata-mata karena nuansa “westernnya” . Engkau akan menjadi faqih pendebat yang tangguh saat engkau tenggak minuman halal itu, dengan perasaan “lihatlah, betapa Amerikanya aku”. Memang, soalnya bukan Amerika atau bukan Amerika, melainkan apakah engkau punya harga diri. Mahatma Ghandi memimpin perjuangan dengan memakai tenunan bangsa sendiri atau terompah lokal yang tak bermerk. Namun setiap ia menoleh ke kanan, maka 300 juta rakyat India menoleh ke kanan. Bila ia tidur di rel kereta api, maka 300 juta rakyat India akan ikut tidur disana.
Kini datang “pemimpin” ummat, ingin mengatrol harga diri dan gengsi ummat dengan pameran mobil, rumah mewah, “toko emas berjalan” dan segudang asesori. Saat fatwa digenderangkan, telinga ummat telah tuli oleh dentam berita tentang hiruk pikuk pesta dunia yang engkau ikut mabuk disana. “Engkau adalah penyanyi bayaranku dengan uang yang kukumpulkan susah payah. Bila aku bosan aku bisa panggil penyanyi lain yang kicaunya lebih memenuhi seleraku”
Banyak orang tertawa tanpa (mau) menyadari sang maut sedang mengintainya.Banyak orang cepat datang ke shaf shalat layaknya orang yang amat merindukan kekasih. Sayang ternyata ia datang tergesa-gesa hanya agar dapat segera pergi.
Seperti penagih hutang yang kejam ia perlakukan Tuhannya. Ada yang datang sekedar memenuhi tugas rutin mesin agama. Dingin, kering dan hampa, tanpa penghayatan. Hilang tak dicari, ada tak disyukuri.
Dari jahil engkau disuruh berilmu dan tak ada idzin untuk berhenti hanya pada ilmu. Engkau dituntut beramal dengan ilmu yang ALLAH berikan. Tanpa itu alangkah besar kemurkaan ALLAH atasmu.
Tersanjungkah engkau yang pandai bercakap tentang keheningan senyap ditingkah rintih istighfar, kecupak air wudlu di dingin malam, lapar perut karena shiam atau kedalaman munajat dalam rakaat-rakaat panjang.
Tersanjungkah engkau dengan licin lidahmu bertutur, sementara dalam hatimu tak ada apa-apa. Kau kunyah mitos pemberian masyarakat dan sangka baik orang-orang berhati jernih, bahwa engkau adalah seorang saleh, alim, abid lagi mujahid, lalu puas meyakini itu tanpa rasa ngeri.
Asshiddiq Abu Bakar Ra. selalu gemetar saat dipuji orang. “Ya ALLAH, jadikan diriku lebih baik daripada sangkaan mereka, janganlah Engkau hukum aku karena ucapan mereka dan ampunilah daku lantaran ketidaktahuan mereka”, ucapnya lirih.
Ada orang bekerja keras dengan mengorbankan begitu banyak harta dan dana, lalu ia lupakan semua itu dan tak pernah mengenangnya lagi. Ada orang beramal besar dan selalu mengingat-ingatnya, bahkan sebagian menyebut-nyebutnya. Ada orang beramal sedikit dan mengklaim amalnya sangat banyak. Dan ada orang yang sama sekali tak pernah beramal, lalu merasa banyak amal dan menyalahkan orang yang beramal, karena kekurangan atau ketidaksesuaian amal mereka dengan lamunan pribadinya, atau tidak mau kalah dan tertinggal di belakang para pejuang. Mereka telah menukar kerja dengan kata. Dimana kau letakkan dirimu? Saat kecil, engkau begitu takut gelap, suara dan segala yang asing. Begitu kerap engkau bergetar dan takut.
Sesudah pengalaman dan ilmu makin bertambah, engkaupun berani tampil di depan seorang kaisar tanpa rasa gentar. Semua sudah jadi biasa, tanpa rasa. Telah berapa hari engkau hidup dalam lumpur yang membunuh hatimu sehingga getarannya tak terasa lagi saat ma’siat menggodamu dan engkau meni’matinya?
Malam-malam berharga berlalu tanpa satu rakaatpun kau kerjakan. Usia berkurang banyak tanpa jenjang kedewasaan ruhani meninggi. Rasa malu kepada ALLAH, dimana kau kubur dia?
Di luar sana rasa malu tak punya harga. Mereka jual diri secara terbuka lewat layar kaca, sampul majalah atau bahkan melalui penawaran langsung. Ini potret negerimu : 228.000 remaja mengidap putau. Dari 1500 responden usia SMP & SMU, 25 % mengaku telah berzina dan hampir separohnya setuju remaja berhubungan seks di luar nikah asal jangan dengan perkosaan. Mungkin engkau mulai berfikir “Jamaklah, bila aku main mata dengan aktifis perempuan bila engkau laki-laki atau sebaliknya di celah-celah rapat atau berdialog dalam jarak sangat dekat atau bertelepon dengan menambah waktu yang tak kauperlukan sekedar melepas kejenuhan dengan canda jarak jauh” Betapa jamaknya ‘dosa kecil’ itu dalam hatimu.
Ke mana getarannya yang gelisah dan terluka dulu, saat “TV Thaghut” menyiarkan segala “kesombongan jahiliyah dan maksiat”?
Saat engkau muntah melihat laki-laki (banci) berpakaian perempuan, karena kau sangat mendukung ustadzmu yang mengatakan ” Jika ALLAH melaknat laki-laki berbusana perempuan dan perempuan berpakaian laki-laki, apa tertawa riang menonton akting mereka tidak dilaknat ?” Ataukah taqwa berlaku saat berkumpul bersama, lalu yang berteriak paling lantang “Ini tidak islami” berarti ia paling islami, sesudah itu urusan tinggallah antara engkau dengan dirimu, tak ada ALLAH disana? Sekarang kau telah jadi kader hebat. Tidak lagi malu-malu tampil.
Justeru engkau akan dihadang tantangan: sangat malu untuk menahan tanganmu dari jabatan tangan lembut lawan jenismu yang muda dan segar. Hati yang berbunga-bunga didepan ribuan massa.
Semua gerak harus ditakar dan jadilah pertimbanganmu tergadai pada kesukaan atau kebencian orang, walaupun harus mengorbankan nilai terbaik yang kau miliki. Lupakah engkau, jika bidikanmu ke sasaran tembak meleset 1 milimeter, maka pada jarak 300 meter dia tidak melenceng 1 milimeter lagi ? Begitu jauhnya inhiraf di kalangan awam, sedikit banyak karena para elitenya telah salah melangkah lebih dulu.
Siapa yang mau menghormati ummat yang “kiayi”nya membayar beberapa ratus ribu kepada seorang perempuan yang beberapa menit sebelumnya ia setubuhi di sebuah kamar hotel berbintang, lalu dengan enteng mengatakan “Itu maharku, ALLAH waliku dan malaikat itu saksiku” dan sesudah itu segalanya selesai, berlalu tanpa rasa bersalah?
Siapa yang akan memandang ummat yang da’inya berpose lekat dengan seorang perempuan muda artis penyanyi lalu mengatakan “Ini anakku, karena kedudukan guru dalam Islam adalah ayah, bahkan lebih dekat daripada ayah kandung dan ayah mertua” Akankah engkau juga menambah barisan kebingungan ummat lalu mendaftar diri sebagai ‘alimullisan (alim di lidah)? Apa kau fikir sesudah semua kedangkalan ini kau masih aman dari kemungkinan jatuh ke lembah yang sama?
Apa beda seorang remaja yang menzinai teman sekolahnya dengan seorang alim yang merayu rekan perempuan dalam aktifitas da’wahnya? Akankah kau andalkan penghormatan masyarakat awam karena statusmu lalu kau serang maksiat mereka yang semakin tersudut oleh retorikamu yang menyihir ? Bila demikian, koruptor macam apa engkau ini? Pernah kau lihat sepasang mami dan papi dengan anak remaja mereka. Tengoklah langkah mereka di mal. Betapa besar sumbangan mereka kepada modernisasi dengan banyak-banyak mengkonsumsi produk junk food, semata-mata karena nuansa “westernnya” . Engkau akan menjadi faqih pendebat yang tangguh saat engkau tenggak minuman halal itu, dengan perasaan “lihatlah, betapa Amerikanya aku”. Memang, soalnya bukan Amerika atau bukan Amerika, melainkan apakah engkau punya harga diri. Mahatma Ghandi memimpin perjuangan dengan memakai tenunan bangsa sendiri atau terompah lokal yang tak bermerk. Namun setiap ia menoleh ke kanan, maka 300 juta rakyat India menoleh ke kanan. Bila ia tidur di rel kereta api, maka 300 juta rakyat India akan ikut tidur disana.
Kini datang “pemimpin” ummat, ingin mengatrol harga diri dan gengsi ummat dengan pameran mobil, rumah mewah, “toko emas berjalan” dan segudang asesori. Saat fatwa digenderangkan, telinga ummat telah tuli oleh dentam berita tentang hiruk pikuk pesta dunia yang engkau ikut mabuk disana. “Engkau adalah penyanyi bayaranku dengan uang yang kukumpulkan susah payah. Bila aku bosan aku bisa panggil penyanyi lain yang kicaunya lebih memenuhi seleraku”
Kamis, 16 September 2010
Antara ikhwan dan akhwat
Jangankan lelaki biasa, Nabi pun terasa sunyi tanpa wanita. Tanpa mereka hati, fikiran, perasaan lelaki akan resah. Masih mencari walaupun sudah ada segala galanya. Apa lagi yang tidak ada di syurga, namun Nabi Adam a.s tetap merindukan Siti Hawa. Kepada wanitalah lelaki memanggil ibu, isteri atau puteri. Dijadikan mereka dari tulang rusuk yang bengkok untuk diluruskan oleh lelaki, tetapi kalau lelaki sendiri yang tak lurus, tdk mungkin mampu hendak meluruskan mereka.
Tak logik kayu yang bengkok menghasilkan bayang-bayang yang lurus. Luruskanlah wanita dengan cara petunjuk Allah, karena mereka diciptakan begitu rupa oleh Mereka. Didiklah mereka dengan panduan dariNya.
JANGAN COBA JINAKKAN MEREKA DENGAN HARTA,
NANTI MEREKA SEMAKIN LIAR.
JANGAN HIBURKAN MEREKA DENGAN KECANTIKAN,
NANTI MEREKA SEMAKIN MENDERITA.
Yang sementara itu tidak akan menyelesaikan masalah. Kenalkan mereka kepada Allah, zat yang kekal, disitulah kuncinya.
AKAL SETIPIS RAMBUTNYA, TEBALKAN DENGAN ILMU.
HATI SERAPUH KACA, KUATKAN DENGAN IMAN.
PERASAAN SELEMBUT SUTERA, HIASILAH DENGAN AKHLAK.
Suburkanlah karena dari situlah nanti mereka akan nampak penilaian dan keadilan Tuhan. Akan terhibur dan bahagialah hati mereka, walaupun tidak jadi ratu cantik dunia, presiden ataupun perdana menteri negara atau women gladiator. Bisikkan ke telinga mereka bahwa kelembutan bukan suatu kelemahan. Itu bukan diskriminasi Tuhan. Sebaliknya disitulah kasih sayang Tuhan, karena rahim wanita yang lembut itulah yang mengandungkan lelaki-lelaki wajah : negarawan, karyawan, jutawan dan " wan-wan" lain. Tidak akan lahir superman tanpa superwoman. Wanita yang lupa hakikat kejadiannya, pasti tidak terhibur dan tidak menghiburkan. Tanpa ilmu, iman dan akhlak, mereka bukan saja tidak bisa diluruskan, bahkan mereka pula membengkokkan.
LEBIH banyak LELAKI YANG DIRUSAKKAN OLEH PEREMPUAN
DARIPADA PEREMPUAN YANG DIRUSAKKAN OLEH LELAKI.
SEBODOH-BODOH PEREMPUAN PUN BISA MENUNDUKKAN SEPANDAI-PANDAI LELAKI
Itulah akibatnya apabila wanita tidak kenal tuhan. Mereka tidak akan kenal diri mereka sendiri, apalagi mengenal lelaki. Kini bukan saja banyak boss telah kehilangan secretary, bahkan anak pun akan kehilangan ibu, suami kehilangan isteri dan bapa akan kehilangan puteri. Bila wanita durhaka dunia akan huru-hara. Bila tulang rusuk patah, rusaklah jantung, hati dan limpa.
Para lelaki pula jangan hanya mengharap ketaatan tetapi binalah kepimpinan. Pastikan sebelum memimpin wanita menuju Allah PIMPINLAH DIRI SENDIRI DAHULU KEPADANYA. Jinakkan diri dengan Allah, niscaya akan jinaklah segala-galanya dibawah pimpinan kita.
JANGAN MENGHARAP ISTERI SEPERTI SITI FATIMAH,
KALAU PRIBADI BELUM LAGI SEPERTI SAYIDINA ALI
Tak logik kayu yang bengkok menghasilkan bayang-bayang yang lurus. Luruskanlah wanita dengan cara petunjuk Allah, karena mereka diciptakan begitu rupa oleh Mereka. Didiklah mereka dengan panduan dariNya.
JANGAN COBA JINAKKAN MEREKA DENGAN HARTA,
NANTI MEREKA SEMAKIN LIAR.
JANGAN HIBURKAN MEREKA DENGAN KECANTIKAN,
NANTI MEREKA SEMAKIN MENDERITA.
Yang sementara itu tidak akan menyelesaikan masalah. Kenalkan mereka kepada Allah, zat yang kekal, disitulah kuncinya.
AKAL SETIPIS RAMBUTNYA, TEBALKAN DENGAN ILMU.
HATI SERAPUH KACA, KUATKAN DENGAN IMAN.
PERASAAN SELEMBUT SUTERA, HIASILAH DENGAN AKHLAK.
Suburkanlah karena dari situlah nanti mereka akan nampak penilaian dan keadilan Tuhan. Akan terhibur dan bahagialah hati mereka, walaupun tidak jadi ratu cantik dunia, presiden ataupun perdana menteri negara atau women gladiator. Bisikkan ke telinga mereka bahwa kelembutan bukan suatu kelemahan. Itu bukan diskriminasi Tuhan. Sebaliknya disitulah kasih sayang Tuhan, karena rahim wanita yang lembut itulah yang mengandungkan lelaki-lelaki wajah : negarawan, karyawan, jutawan dan " wan-wan" lain. Tidak akan lahir superman tanpa superwoman. Wanita yang lupa hakikat kejadiannya, pasti tidak terhibur dan tidak menghiburkan. Tanpa ilmu, iman dan akhlak, mereka bukan saja tidak bisa diluruskan, bahkan mereka pula membengkokkan.
LEBIH banyak LELAKI YANG DIRUSAKKAN OLEH PEREMPUAN
DARIPADA PEREMPUAN YANG DIRUSAKKAN OLEH LELAKI.
SEBODOH-BODOH PEREMPUAN PUN BISA MENUNDUKKAN SEPANDAI-PANDAI LELAKI
Itulah akibatnya apabila wanita tidak kenal tuhan. Mereka tidak akan kenal diri mereka sendiri, apalagi mengenal lelaki. Kini bukan saja banyak boss telah kehilangan secretary, bahkan anak pun akan kehilangan ibu, suami kehilangan isteri dan bapa akan kehilangan puteri. Bila wanita durhaka dunia akan huru-hara. Bila tulang rusuk patah, rusaklah jantung, hati dan limpa.
Para lelaki pula jangan hanya mengharap ketaatan tetapi binalah kepimpinan. Pastikan sebelum memimpin wanita menuju Allah PIMPINLAH DIRI SENDIRI DAHULU KEPADANYA. Jinakkan diri dengan Allah, niscaya akan jinaklah segala-galanya dibawah pimpinan kita.
JANGAN MENGHARAP ISTERI SEPERTI SITI FATIMAH,
KALAU PRIBADI BELUM LAGI SEPERTI SAYIDINA ALI
Langganan:
Postingan (Atom)