Dua hal apabila dimiliki oleh seseorang dia dicatat oleh Allah sebagai orang yang bersyukur dan sabar. Dalam urusan agama (ilmu dan ibadah) dia melihat kepada yang lebih tinggi lalu meniru dan mencontohnya. Dalam urusan dunia dia melihat kepada yang lebih bawah, lalu bersyukur kepada Allah bahwa dia masih diberi kelebihan. (HR. Tirmidzi)
Siang itu, Jakarta begitu cerah, secerah wajah kami yang baru saja gajian. Temanku tiba-tiba nelpon. “Makan siang yuk”, ajaknya. “Oke”, jawabku. So she picked me up at the lobby of Jakarta Stock Exchange Building.
Selepas SCBD, kami masih belum ada ide mau makan dimana. Ide ke soto Pak Sadi segera terpatahkan begitu melihat bahwa yang parkir sudah sampai sebrang-sebrang, motor dan mobil antri menunggu “boss”nya yang sedang makan.
Akhirnya kami memutuskan makan gado-gado di Kertanegara. Bisa makan di mobil soalnya sampai di sana masih sepi. Baru ada beberapa mobil. Kami masih bisa memilih parkir yang enak. Mungkin karena setelah pada jumatan. Begitu parkir, seperti biasa, calo-calo warung gado-gado sudah menanyakan mau makan apa, minum apa.
Kami pesan dua porsi gado-gado + minuman manis dalam botol (maaf gak mau sebut merek, ntar disangka iklan). Sambil menunggu pesanan, kami-pun ngobrol. So, sedang asyik-asyiknya ngobrol, tiba-tiba kami dikagetkan dengak kehadiran seorang pemuda lusuh nongol di jendela mobil kami, yang membuat kami agak kaget.
“Semir om?” tanyanya, sambil memberikan senyum terbaiknya.
Aku lirik sepatuku. Ugh, kapan ya terakhir aku nyemir sepatuku sendiri? Aku sendiri lupa. Saking lamanya. Maklum, aku kan karyawan sok sibuk…Tanpa sadar tangan ku membuka sepatu dan memberikannya pada dia.
Dia menerimanya lalu membawanya ke emperan sebuah rumah. Tempat yang terlihat dari tempat kami parkir. Tempat yang cukup teduh. Mungkin supaya nyemirnya nyaman.
Pesanan kami pun datang. Kami makan sambil ngobrol. Sambil memperhatikan pemuda tadi nyemir sepatu ku. Pembicaraan pun bergeser ke pemuda itu. Umurnya sekitar 20-an. Terlalu tua untuk jadi penyemir sepatu. Biasanya pemuda umur segitu kalo tidak jadi tukang parkir or jadi kernet,ya jadi pak ogah.
Perlahan kami perhatikan, pandangan mata pemuda itu tampak kosong. Absent minded. Seperti orang sedih. Seperti ada yang dipikirkan. Tangannya seperti menyemir secara otomatis. Kadang-kadang matanya melayang ke arah mobil-mobil yang hendak parkir (sudah mulai ramai).
Lalu pandangannya kembali kosong. Perbincangan kami mulai ngelantur kemana-mana. Sampai kami main tebak-tebakan tentang kira-kira umur dia berapa, pagi tadi dia mandi apa enggak, kenapa dia jadi penyemir dll. Kami masih makan saat dia selesai menyemir.
Dia menyerahkan sepatunya pada ku. Belum lagi dia kubayar, dia bergerak menjauh, menuju mobil-mobil yang parkir sesudah kami.
Mata kami lekat padanya. Kami melihatnya mendekati sebuah mobil. Menawarkan jasa. Ditolak. Nyengir. Kelihatannya dia memendam kesedihan. Pergi ke mobil satunya. Ditolak lagi. Melangkah lagi dengan gontai ke mobil lainnya. Menawarkan lagi. Ditolak lagi. Dan setiap kali dia ditolak, sepertinya kami juga merasakan penolakan itu. Ehm…kenapa ya?
Sepertinya sekarang kami jadi ikut menyelami apa yang dia rasakan pemuda tukang semir itu. Tiba-tiba kami tersadar. Konyol ah. Who said life would be fair anyway. Kenapa jadi kita yang mengharapkan bahwa semua orang harus menyemir? Hihihi…
Perbincangan pun bergeser ke topik lain. Di kejauhan aku masih bisa melihat pemuda tadi, masih menenteng kotak semirnya di satu tangan, mendapatkan penolakan dari satu mobil ke mobil lainnya. Bahkan, selain penolakan,di beberapa mobil, dia juga mendapat pandangan curiga.
Akhirnya dia kembali ke bawah pohon. Duduk di atas kotak semirnya. Tertunduk lesu…Kami pun selesai makan. Ah, iya. Penyemir tadi belum aku bayar. Kulambai dia. Kutarik 2 buah lembaran ribuan dari kantong kemejaku. Uang sisa parkir. Lalu kuberikan kepadanya. Soalnya setahu ku jasa nyemir biasanya dua ribu rupiah
Pemuda tukang semir itu menerima sambil memeriksa gulungan uang dari kami, kemudian berkata kalem “Kebanyakan om. Seribu aja”.
BOOOOM….Jawaban itu tiba-tiba serasa petir di hatiku.
It-just-does- not-compute- with-my-logic!
Bayangkan, orang seperti dia masih berani menolak uang yang bukan hak-nya.
Aku masih terbengong-bengong waktu nerima uang seribu rupiah yang dia kembalikan. Se-ri-bu Ru-pi-ah. Bisa buat apa sih sekarang? But, dia merasa cukup dibayar segitu.
Pikiranku tiba-tiba melayang. Tiba-tiba aku merasa ngeri. Betapa aku masih sedemikian kerdil. Betapa aku masih suka merasa kurang dengan gaji ku. Padahal keadaanku sudah sangat jauh lebih baik dari dia dan mungkin lebih baik dari 34,96 juta penduduk Indonesia yang masih bergelut dengan kemiskinannya.
Tuhan sudah sedemikian baik kepadaku, tapi perilaku-ku belum seberapa dibandingkan dengan pemuda itu, yang dalam kekurangannya, masih mau mengembalikan yang memang bukan haknya.
Sangat jauh dibandingkan dengan para “penjahat kerah putih” yang dengan kekuasaan dan kedudukannya “memakan” hak orang lain tanpa belas kasihan demi kepentingan dirinya sendiri.
Jadi teringat dengan ceramah sala seorang ustadz di musholla kecil sekitar rumahku, ketika sang penceramah mengingatkan sebuah ayat :
“Dan (ingatlah juga), takala Rabbmu memaklumkan: Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. (QS. Ibrahim : ayat 7)
Dan akhirnya, sambil memandang pemuda tukang semir itu, yang perlahan hilang dari pandangan, karena kami harus back to office , hati saya berdo’a semoga Allah jadikan saya orang yang BERIMAN dan BERSYUKUR.
“Sungguh mengagumkan urusan (sikap) orang beriman, karena segala urusannya baginya adalah kebaikan. Dan itu tidak terjadi selain pada orang beriman. Jika ia menerima kebahagiaan ia bersyukur, maka itu jadi kebaikan baginya. Dan jika ia menerima musibah ia bersabar, maka itu jadi kebaikan baginya.” (Riwayat Muslim)
Siang ini aku merasa mendapat pelajaran berharga.
Siang ini aku seperti diingatkan.
Bahwa kejujuran itu langka.
Bahwa kebahagiaan dunia dan (insya Allah akhirat) itu adanya di rasa syukur.
Sumber :
kiriman seorang sahabat via email
Digital Clock with Islamic Ornament
Rabu, 04 Mei 2011
Senin, 02 Mei 2011
Sholat Subuh di Masjid
Seorang pria bangun pagi2 buta utk sholat subuh di Masjid. Dia berpakaian, berwudhu dan berjalan menuju masjid. Di tengah jalan menuju masjid, pria tsb jatuh dan pakaiannya kotor. Dia bangkit, membersihkan bajunya, dan pulang kembali kerumah. Di rumah,dia berganti baju, berwudhu, dan, LAGI,berjalan menuju masjid .
Dlm perjalanan kembali ke masjid, dia jatuh lagi di tempat yg sama! Dia, sekali lagi, bangkit, membersihkan dirinya dan kembali kerumah. Dirumah, dia, sekali lagi, berganti baju, berwudhu dan berjalan menuju masjid.
Di tengah jalan menuju masjid, dia bertemu seorang pria yg memegang lampu. Dia menanyakan identitas pria tsb, dan pria itu menjawab :
"Saya melihat anda jatuh 2 kali di perjalanan menuju masjid, jadi saya bawakan lampu untuk menerangi jalan anda."
Pria pertama mengucapkan terima kasih dan mereka berdua berjalan ke masjid. Saat sampai di masjid, pria pertama bertanya kepada pria yang membawa lampu untuk masuk dan sholat subuh bersamanya.Pria kedua menolak. Pria pertama mengajak lagi hingga berkali2 dan,lagi, jawabannya sama.Pria pertama bertanya, kenapa menolak untuk masuk dan sholat. Pria kedua menjawab.......
Aku adalah Setan
Pria itu terkejut dgn jawaban pria kedua. Setan kemudian menjelaskan,"Saya melihat kamu berjalan ke masjid dan sayalah yg membuat kamu terjatuh."
"Ketika kamu pulang ke rumah,membersihkan badan dan kembali ke masjid, Allah memaafkan semua dosa2mu."
"Saya membuatmu jatuh kedua kalinya, dan bahkan itupun tidak membuatmu merubah pikiran untuk tinggal dirumah saja,kamu tetap memutuskan kembali masjid. Karena hal itu, Allah memaafkan dosa2 seluruh anggota keluargamu."
"Saya KHAWATIR jika saya membuat mu jatuh utk ketiga kalinya, jangan2 Allah akan memaafkan dosa2 seluruh penduduk desamu, jadi saya harus memastikan bahwa anda sampai dimasjid dgn selamat..."
Jadi, jangan pernah biarkan Setan mendapatkan keuntungan dari setiap aksinya. Jangan melepaskan sebuah niat baik yg hendak kamu lakukan karena kamu tidak pernah tau ganjaran yg akan kamu dapatkan dari segala kesulitan yg kamu temui dalam usahamu utk melaksanakan niat baik tersebut.
Dlm perjalanan kembali ke masjid, dia jatuh lagi di tempat yg sama! Dia, sekali lagi, bangkit, membersihkan dirinya dan kembali kerumah. Dirumah, dia, sekali lagi, berganti baju, berwudhu dan berjalan menuju masjid.
Di tengah jalan menuju masjid, dia bertemu seorang pria yg memegang lampu. Dia menanyakan identitas pria tsb, dan pria itu menjawab :
"Saya melihat anda jatuh 2 kali di perjalanan menuju masjid, jadi saya bawakan lampu untuk menerangi jalan anda."
Pria pertama mengucapkan terima kasih dan mereka berdua berjalan ke masjid. Saat sampai di masjid, pria pertama bertanya kepada pria yang membawa lampu untuk masuk dan sholat subuh bersamanya.Pria kedua menolak. Pria pertama mengajak lagi hingga berkali2 dan,lagi, jawabannya sama.Pria pertama bertanya, kenapa menolak untuk masuk dan sholat. Pria kedua menjawab.......
Aku adalah Setan
Pria itu terkejut dgn jawaban pria kedua. Setan kemudian menjelaskan,"Saya melihat kamu berjalan ke masjid dan sayalah yg membuat kamu terjatuh."
"Ketika kamu pulang ke rumah,membersihkan badan dan kembali ke masjid, Allah memaafkan semua dosa2mu."
"Saya membuatmu jatuh kedua kalinya, dan bahkan itupun tidak membuatmu merubah pikiran untuk tinggal dirumah saja,kamu tetap memutuskan kembali masjid. Karena hal itu, Allah memaafkan dosa2 seluruh anggota keluargamu."
"Saya KHAWATIR jika saya membuat mu jatuh utk ketiga kalinya, jangan2 Allah akan memaafkan dosa2 seluruh penduduk desamu, jadi saya harus memastikan bahwa anda sampai dimasjid dgn selamat..."
Jadi, jangan pernah biarkan Setan mendapatkan keuntungan dari setiap aksinya. Jangan melepaskan sebuah niat baik yg hendak kamu lakukan karena kamu tidak pernah tau ganjaran yg akan kamu dapatkan dari segala kesulitan yg kamu temui dalam usahamu utk melaksanakan niat baik tersebut.
Pendidik, Bukan Pemburu
Pendidik, Bukan Pemburu
http://cetak. kompas.com/
Hari Senin, 2 Maret 2009, David H Wijaya, mahasiswa pintar asal Indonesia, tewas di Nanyang Tech University, Singapura.
Semula, diberitakan ia kepepet, menusuk profesornya, lalu bunuh diri. Kejadian seperti ini sering dilihat dari sisi kriminalitas (urusan polisi). Namun, benarkah demikian?
Kalau David masih hidup, para pendidik bisa belajar banyak darinya. Versi lain menyebutkan, David bukan pencemas, kurang pandai bergaul, atau rendah kecerdasan sosialnya. Akan ada versi-versi lain yang perlu dilihat dari kacamata pendidikan.
Naluri saya yang bergelut di bidang pendidikan selama lebih dari 20 tahun mengatakan sebaliknya. Besar kemungkinan mereka adalah korban dari sistem dan perilaku pemburu dalam pendidikan. Apalagi Pemerintah Singapura amat berkepentingan memburu anak-anak pintar etnis tertentu untuk mengimbangi populasi bangsanya.
Jadi, diperlukan kehati-hatian dalam menafsirkan versi awal yang tidak dilandasi pada cara berpikir dari kacamata pendidikan.
Pemburu bukan pendidik
Bangku sekolah tentu bukan hutan belantara yang didiami aneka satwa liar nan buas. Sekolah adalah entitas sosial yang mendidik masyarakat agar hidup dalam peradaban ilmiah, saling menghargai, dan mencapai kesejahteraan atau kebahagiaan.
Namun, entah mengapa, sekolah telah berubah menjadi lembaga yang meresahkan anak didik. Bukan pemburu bersenjata, melainkan guru yang menuntut bekerja tertib, berkompetisi, dan prestasi akademis.
Daripada menghargai keunikan masing-masing, kita membuat standar, lalu menempatkan mereka dalam struktur dan ranking. Akibatnya, bersaing mengejar ranking dan berebut masuk standar untuk mendapat pengakuan, beasiswa, dan penghargaan. Mereka yang memiliki keunikan dianggap bodoh meski di masyarakat terbukti sukses dan karya- karya mereka amat dihargai.
Guru, atau dosen, yang mengabaikan faktor keunikan anak didiknya adalah pemburu, dan bagi saya pemburu bukan pendidik. Pemburu menatap tajam anak didiknya yang tak masuk ranking, menghukum dan kadang menyiksa. Di televisi sering kita saksikan rekaman gambar guru yang
menyiksa murid-muridnya.
Anak-anak pintar pun tak luput dari ”penyiksaan” pemburu. Mereka dituntut menunjukkan kehebatan dan selesai lebih cepat dari jadwal. Keunikan masing-masing tidak diterima sebagai kehebatan.
Saat mengepalai program doktor, saya sering terpaksa menggeser penguji, bukan karena mereka kurang hebat, tetapi karena lebih cocok jadi pemburu. Pemburu membombardir anak didiknya dengan berbagai pertanyaan sinis, out of context, dengan tujuan menjatuhkan daripada
membantu mereka menemukan masa depannya.
Sisi anak didik
David mungkin saja tidak memiliki kecerdasan sosial dan emosional seperti kata sejumlah kalangan. Namun, para guru di BPK Penabur mengatakan, David bukan penyendiri. Di kampus, ia juga aktif dalam kegiatan olahraga dan menjadi utusan Indonesia dalam Olimpiade Matematika di Meksiko. Karena David sudah tiada, mungkin kita bisa belajar dari David-David lain.
Di Orinda, California, pada tahun 1985, seorang anak perempuan membunuh teman sekelasnya yang pintar dan populer. Saat diinterogasi polisi dan diperiksa kesehatan jiwanya, diketahui ia merasa tertekan karena dirinya nothing, invisible (tak ada yang menghiraukan), dan worthless (tak bernilai).
Perasaan dan pikiran yang demikian membentuk keyakinan (belief). Matthew McKay dan Patrick Fanning (1991) bahkan menyebutkan, banyak sekali anak didik yang memiliki keunikan menjadi prisoners of belief (narapidana keyakinan) yang membuat mereka tidak bahagia dan sulit
mengendalikan diri.
Pada masa krisis k ita akan banyak bergulat dengan narapidana-narapida na keyakinan yang terbelenggu dan sulit menerima kesulitan hidup, kegagalan, dan aneka keterbatasan, baik karena peristiwa ekonomi maupun kepemimpinan atasan yang buruk. Mereka memaksa dirinya masuk dalam standar dan menyangkal keunikan dirinya semata-mata karena belenggu sekolah.
Keyakinan inti (core-belief) tak pernah disentuh para pendidik karena banyak sebab. Pertama, tak sedikit pendidik yang juga menjadi narapidana keyakinan. Kedua, diperlukan therapy, dan therapy ini bukan kurikulum inti yang dianggap penting oleh pengelola pendidikan. Ketiga, tak banyak orang paham men-therapy belief seseorang.
10 elemen
Saya pernah memasukkannya, dan hingga kini masih menggunakannya untuk membongkar belenggu-belenggu yang mengikat anak didik, tetapi pengalaman mengatakan, implementasinya banyak menemui hujatan dari para ”pemburu”. Untuk mencegah kasus David-David lain, kita harus memeriksa core-belief inventory yang tersembunyi di balik pikiran anak-anak didik dan para pendidik. Inventory ini terdiri dari 10 elemen, yaitu percaya diri, rasa nyaman, kontrol diri, cinta, otonomi, keluarga, rasa adil, kinerja, perubahan, kepercayaan (trust).
Elemen-elemen itu dapat dibagi tiga: rasa percaya, hubungan personal, dan pengendalian hidup. Ketiganya memengaruhi tingkat kecemasan, pengambilan keputusan, asumsi terhadap orang lain, ketenangan/kecemasa n, dan keberhasilan hidup.
Kategori pertama diwakili oleh percaya diri dan perasaan bernilai, percaya kepada orang lain, dan merasa diperlakukan adil. Monolognya mengalir dalam pernyataan seperti ”saya cukup bernilai”, ”mereka dapat dipercaya”, ”mereka memperlakukan saya dengan adil”.
Kategori kedua, kenyamanan, cinta (love), dan keluarga (belonging). Orang-orang yang hidupnya seimbang cenderung penuh cinta dan ada yang memikirkan. Kata mereka, ”Kalau hari ini saya hilang, pasti ada yang kehilangan dan menangisi kepergian saya.”
Kategori ketiga, kemampuan kita mengendalikan diri sendiri, pekerjaan/sekolah (kinerja), kemandirian, dan pengambilan risiko (perubahan). Kelompok terakhir ini dapat disimpulkan dengan pernyataan ”saya bisa mengendalikan dorongan-dorongan liar dalam jiwa saya”,
”saya punya prestasi”, ”saya cukup punya otoritas”, serta ”kalau menjadi lebih baik, mengapa takut menghadapi perubahan”.
Andaikan David masih ada dan polisi Singapura cukup terbuka, mungkin kita bisa menemukan jawabnya dengan memeriksa kesepuluh elemen itu, baik pada David maupun dosen pembimbingnya.
Dari pengalaman anak-anak didik yang dianggap bermasalah oleh para gurunya, diyakini David bukan anak jahat atau lemah kecerdasan sosialnya. David telah menjadi ”narapidana keyakinan” yang tersudut dalam hutan perburuan dan kita tak memberikan ruang untuk membebaskan
atau menghargai keunikannya.
Rhenald Kasali Pengajar di Universitas Indonesia
http://cetak. kompas.com/
Hari Senin, 2 Maret 2009, David H Wijaya, mahasiswa pintar asal Indonesia, tewas di Nanyang Tech University, Singapura.
Semula, diberitakan ia kepepet, menusuk profesornya, lalu bunuh diri. Kejadian seperti ini sering dilihat dari sisi kriminalitas (urusan polisi). Namun, benarkah demikian?
Kalau David masih hidup, para pendidik bisa belajar banyak darinya. Versi lain menyebutkan, David bukan pencemas, kurang pandai bergaul, atau rendah kecerdasan sosialnya. Akan ada versi-versi lain yang perlu dilihat dari kacamata pendidikan.
Naluri saya yang bergelut di bidang pendidikan selama lebih dari 20 tahun mengatakan sebaliknya. Besar kemungkinan mereka adalah korban dari sistem dan perilaku pemburu dalam pendidikan. Apalagi Pemerintah Singapura amat berkepentingan memburu anak-anak pintar etnis tertentu untuk mengimbangi populasi bangsanya.
Jadi, diperlukan kehati-hatian dalam menafsirkan versi awal yang tidak dilandasi pada cara berpikir dari kacamata pendidikan.
Pemburu bukan pendidik
Bangku sekolah tentu bukan hutan belantara yang didiami aneka satwa liar nan buas. Sekolah adalah entitas sosial yang mendidik masyarakat agar hidup dalam peradaban ilmiah, saling menghargai, dan mencapai kesejahteraan atau kebahagiaan.
Namun, entah mengapa, sekolah telah berubah menjadi lembaga yang meresahkan anak didik. Bukan pemburu bersenjata, melainkan guru yang menuntut bekerja tertib, berkompetisi, dan prestasi akademis.
Daripada menghargai keunikan masing-masing, kita membuat standar, lalu menempatkan mereka dalam struktur dan ranking. Akibatnya, bersaing mengejar ranking dan berebut masuk standar untuk mendapat pengakuan, beasiswa, dan penghargaan. Mereka yang memiliki keunikan dianggap bodoh meski di masyarakat terbukti sukses dan karya- karya mereka amat dihargai.
Guru, atau dosen, yang mengabaikan faktor keunikan anak didiknya adalah pemburu, dan bagi saya pemburu bukan pendidik. Pemburu menatap tajam anak didiknya yang tak masuk ranking, menghukum dan kadang menyiksa. Di televisi sering kita saksikan rekaman gambar guru yang
menyiksa murid-muridnya.
Anak-anak pintar pun tak luput dari ”penyiksaan” pemburu. Mereka dituntut menunjukkan kehebatan dan selesai lebih cepat dari jadwal. Keunikan masing-masing tidak diterima sebagai kehebatan.
Saat mengepalai program doktor, saya sering terpaksa menggeser penguji, bukan karena mereka kurang hebat, tetapi karena lebih cocok jadi pemburu. Pemburu membombardir anak didiknya dengan berbagai pertanyaan sinis, out of context, dengan tujuan menjatuhkan daripada
membantu mereka menemukan masa depannya.
Sisi anak didik
David mungkin saja tidak memiliki kecerdasan sosial dan emosional seperti kata sejumlah kalangan. Namun, para guru di BPK Penabur mengatakan, David bukan penyendiri. Di kampus, ia juga aktif dalam kegiatan olahraga dan menjadi utusan Indonesia dalam Olimpiade Matematika di Meksiko. Karena David sudah tiada, mungkin kita bisa belajar dari David-David lain.
Di Orinda, California, pada tahun 1985, seorang anak perempuan membunuh teman sekelasnya yang pintar dan populer. Saat diinterogasi polisi dan diperiksa kesehatan jiwanya, diketahui ia merasa tertekan karena dirinya nothing, invisible (tak ada yang menghiraukan), dan worthless (tak bernilai).
Perasaan dan pikiran yang demikian membentuk keyakinan (belief). Matthew McKay dan Patrick Fanning (1991) bahkan menyebutkan, banyak sekali anak didik yang memiliki keunikan menjadi prisoners of belief (narapidana keyakinan) yang membuat mereka tidak bahagia dan sulit
mengendalikan diri.
Pada masa krisis k ita akan banyak bergulat dengan narapidana-narapida na keyakinan yang terbelenggu dan sulit menerima kesulitan hidup, kegagalan, dan aneka keterbatasan, baik karena peristiwa ekonomi maupun kepemimpinan atasan yang buruk. Mereka memaksa dirinya masuk dalam standar dan menyangkal keunikan dirinya semata-mata karena belenggu sekolah.
Keyakinan inti (core-belief) tak pernah disentuh para pendidik karena banyak sebab. Pertama, tak sedikit pendidik yang juga menjadi narapidana keyakinan. Kedua, diperlukan therapy, dan therapy ini bukan kurikulum inti yang dianggap penting oleh pengelola pendidikan. Ketiga, tak banyak orang paham men-therapy belief seseorang.
10 elemen
Saya pernah memasukkannya, dan hingga kini masih menggunakannya untuk membongkar belenggu-belenggu yang mengikat anak didik, tetapi pengalaman mengatakan, implementasinya banyak menemui hujatan dari para ”pemburu”. Untuk mencegah kasus David-David lain, kita harus memeriksa core-belief inventory yang tersembunyi di balik pikiran anak-anak didik dan para pendidik. Inventory ini terdiri dari 10 elemen, yaitu percaya diri, rasa nyaman, kontrol diri, cinta, otonomi, keluarga, rasa adil, kinerja, perubahan, kepercayaan (trust).
Elemen-elemen itu dapat dibagi tiga: rasa percaya, hubungan personal, dan pengendalian hidup. Ketiganya memengaruhi tingkat kecemasan, pengambilan keputusan, asumsi terhadap orang lain, ketenangan/kecemasa n, dan keberhasilan hidup.
Kategori pertama diwakili oleh percaya diri dan perasaan bernilai, percaya kepada orang lain, dan merasa diperlakukan adil. Monolognya mengalir dalam pernyataan seperti ”saya cukup bernilai”, ”mereka dapat dipercaya”, ”mereka memperlakukan saya dengan adil”.
Kategori kedua, kenyamanan, cinta (love), dan keluarga (belonging). Orang-orang yang hidupnya seimbang cenderung penuh cinta dan ada yang memikirkan. Kata mereka, ”Kalau hari ini saya hilang, pasti ada yang kehilangan dan menangisi kepergian saya.”
Kategori ketiga, kemampuan kita mengendalikan diri sendiri, pekerjaan/sekolah (kinerja), kemandirian, dan pengambilan risiko (perubahan). Kelompok terakhir ini dapat disimpulkan dengan pernyataan ”saya bisa mengendalikan dorongan-dorongan liar dalam jiwa saya”,
”saya punya prestasi”, ”saya cukup punya otoritas”, serta ”kalau menjadi lebih baik, mengapa takut menghadapi perubahan”.
Andaikan David masih ada dan polisi Singapura cukup terbuka, mungkin kita bisa menemukan jawabnya dengan memeriksa kesepuluh elemen itu, baik pada David maupun dosen pembimbingnya.
Dari pengalaman anak-anak didik yang dianggap bermasalah oleh para gurunya, diyakini David bukan anak jahat atau lemah kecerdasan sosialnya. David telah menjadi ”narapidana keyakinan” yang tersudut dalam hutan perburuan dan kita tak memberikan ruang untuk membebaskan
atau menghargai keunikannya.
Rhenald Kasali Pengajar di Universitas Indonesia
Rabu, 27 April 2011
Ayah seperti apa?
tulisan ini di ambil dan di share di blog ini dari artikel http://seorangayah.wordpress.com/2010/12/13/kisah-para-ayah/. semoga bermanfaat ^^
Subuh tadi saya melewati sebuah rumah, 50 meter dari rumah saya dan melihat seorang isteri mengantar suaminya sampai pagar depan rumah.
“Yah, beras sudah habis loh…,” ujar isterinya.
Suaminya hanya tersenyum dan bersiap melangkah,
namun langkahnya terhenti oleh panggilan anaknya daridalam rumah,
“Ayah, besok Agus harus bayar uang praktek.”"Iya…,” jawab sang Ayah.
Getir terdengar di telinga saya, apalah lagi bagi lelaki itu, saya bisa menduga langkahnya semakin berat.
Ngomong-ngomong, saya jadi ingat pesan anak saya semalam,”Besok beliin lengkeng ya”
dan saya hanya menjawabnya dengan “Insya Allah”
sambil berharap anak saya tak kecewa jika malam nanti tangan ini tak berjinjing buah kesukaannya itu.
Di kantor, seorang teman menerima SMS nyasar, “Jangan lupa, pulang beliin susu Nadia ya”. Kontan saja SMS itu membuat teman saya bingung dan sedikit berkelakar,”Ini, anak siapa minta susunya ke siapa”. Saya pun sempat berpikir, mungkin jika SMS itu benar-benar sampai ke nomor sang Ayah, tambah satu gundah lagi yang bersemayam. Kalau tersedia cukup uang di kantong, tidaklah masalah. Bagaimana jika sebaliknya? Banyak para Ayah setiap pagi membawa serta gundah mereka, mengiringi setiap langkah hingga ke kantor.
Keluhan isteri semalam tentang uang belanja yang sudah habis, bayaran sekolah anak yang tertunggak sejak bulan lalu, susu si kecil yang tersisa di sendok terakhir, bayar tagihan listrik, hutang di warung tetangga yang mulai sering mengganggu tidur, dan segunung gundah lain yang kerap membuatnya terlamun. Tidak sedikit Ayah yang tangguh yang ingin membuat isterinya tersenyum, meyakinkan anak-anaknya tenang dengan satu kalimat,”Iya, nanti semua Ayah bereskan,” meski dadanya bergemuruh kencang dan otaknya berputar mencari jalan untuk janjinya membereskan semua gundah yang ia genggam.
Maka sejarah pun berlangsung, banyak para Ayah yang berakhir di tali gantungan tak kuat menahan beban ekonomi yang semakin menjerat cekat lehernya. Baginya, tali gantungan tak bedanya dengan jeratan hutang dan rengekan keluarga yang tak pernah bisa ia sanggupi. Sama-sama menjerat, bedanya, tali gantungan menjerat lebih cepat dan tidak perlahan-lahan. Tidak sedikit para Ayah yang membiarkan tangannya berlumuran darah sambil menggenggam sebilah pisau mengorbankan hak orang lain demi menuntaskan gundahnya. Walau akhirnya ia pun harus berakhir di dalam penjara. Yang pasti, tak henti tangis bayi di rumahnya,karena susu yang dijanjikan sang Ayah tak pernah terbeli.
Tak jarang para Ayah yang terpaksa menggadaikan keimanannya, menipu rekan sekantor, mendustai atasan dengan memanipulasi angka-angka, atau berbuat curang dibalik meja teman sekerja. Isteri dan anak-anaknya tak pernah tahu dan tak pernah bertanya dari mana uang yang didapat sang Ayah. Halalkah? Karena yang penting teredam sudah gundah hari itu. Teramat banyak para isteri dan anak-anak yang setia menunggu kepulangan Ayahnya, hingga larut yang ditunggu tak juga kembali. Sementara jauh disana, lelaki yang isteri dan anak-anaknya setia menunggu itu telah babak belur tak berkutik, hancur meregang nyawa, menahan sisa-sisa nafas terakhir setelah dihajar massa yang geram oleh aksi pencopetan yang dilakukannya. Sekali lagi, ada yang rela menanggung resiko ini demi segenggam gundah yang mesti ia tuntaskan.
Sungguh, di antara sekian banyak Ayah itu, saya teramat salut dengan sebagian Ayah lain yang tetap sabar menggenggam gundahnya, membawanya kembali ke rumah, menyertakannya dalam mimpi, mengadukannya dalam setiap sujud panjangnya di pertengahan malam, hingga membawanya kembali bersama pagi. Berharap ada rezeki yang Allah berikan hari itu,agar tuntas satu persatu gundah yang masih ia genggam. Ayah yang ini, masih percaya bahwa Allah takkan membiarkan hamba-Nya berada dalam kekufuran akibat gundah-gundah yang tak pernah usai.
Para Ayah ini, yang akan menyelesaikan semua gundahnya tanpa harus menciptakan gundah baru bagi keluarganya. Karena ia takkan menuntaskan gundahnya dengan tali gantungan, atau dengan tangan berlumur darah, atau berakhir di balik jeruji pengap, atau bahkan membiarkan seseorang tak dikenal membawa kabar buruk tentang dirinya yang hangus dibakar massa setelah tertangkap basah mencopet.
Dan saya, sebagai Ayah, akan tetap menggenggam gundah saya dengan senyum.
Saya yakin, Allah suka terhadap orang-orang yang tersenyum dan ringan melangkah di balik semua keluh dan gundahnya. Semoga.
============
Cobalah untuk sekedar bercermin, “AYAH SEPERTI APAKAH KITA?”
#lantai 9 di salah satu gedung di Jakarta
#seorangayah yang berusaha menjadi ayah terbaik bagi anak-anaknya
13 Desember 2010
Sumber :
Tulisan : Milis Pondok Aren
Gambar : hatiperantau.files.wordpress.com
Subuh tadi saya melewati sebuah rumah, 50 meter dari rumah saya dan melihat seorang isteri mengantar suaminya sampai pagar depan rumah.
“Yah, beras sudah habis loh…,” ujar isterinya.
Suaminya hanya tersenyum dan bersiap melangkah,
namun langkahnya terhenti oleh panggilan anaknya daridalam rumah,
“Ayah, besok Agus harus bayar uang praktek.”"Iya…,” jawab sang Ayah.
Getir terdengar di telinga saya, apalah lagi bagi lelaki itu, saya bisa menduga langkahnya semakin berat.
Ngomong-ngomong, saya jadi ingat pesan anak saya semalam,”Besok beliin lengkeng ya”
dan saya hanya menjawabnya dengan “Insya Allah”
sambil berharap anak saya tak kecewa jika malam nanti tangan ini tak berjinjing buah kesukaannya itu.
Di kantor, seorang teman menerima SMS nyasar, “Jangan lupa, pulang beliin susu Nadia ya”. Kontan saja SMS itu membuat teman saya bingung dan sedikit berkelakar,”Ini, anak siapa minta susunya ke siapa”. Saya pun sempat berpikir, mungkin jika SMS itu benar-benar sampai ke nomor sang Ayah, tambah satu gundah lagi yang bersemayam. Kalau tersedia cukup uang di kantong, tidaklah masalah. Bagaimana jika sebaliknya? Banyak para Ayah setiap pagi membawa serta gundah mereka, mengiringi setiap langkah hingga ke kantor.
Keluhan isteri semalam tentang uang belanja yang sudah habis, bayaran sekolah anak yang tertunggak sejak bulan lalu, susu si kecil yang tersisa di sendok terakhir, bayar tagihan listrik, hutang di warung tetangga yang mulai sering mengganggu tidur, dan segunung gundah lain yang kerap membuatnya terlamun. Tidak sedikit Ayah yang tangguh yang ingin membuat isterinya tersenyum, meyakinkan anak-anaknya tenang dengan satu kalimat,”Iya, nanti semua Ayah bereskan,” meski dadanya bergemuruh kencang dan otaknya berputar mencari jalan untuk janjinya membereskan semua gundah yang ia genggam.
Maka sejarah pun berlangsung, banyak para Ayah yang berakhir di tali gantungan tak kuat menahan beban ekonomi yang semakin menjerat cekat lehernya. Baginya, tali gantungan tak bedanya dengan jeratan hutang dan rengekan keluarga yang tak pernah bisa ia sanggupi. Sama-sama menjerat, bedanya, tali gantungan menjerat lebih cepat dan tidak perlahan-lahan. Tidak sedikit para Ayah yang membiarkan tangannya berlumuran darah sambil menggenggam sebilah pisau mengorbankan hak orang lain demi menuntaskan gundahnya. Walau akhirnya ia pun harus berakhir di dalam penjara. Yang pasti, tak henti tangis bayi di rumahnya,karena susu yang dijanjikan sang Ayah tak pernah terbeli.
Tak jarang para Ayah yang terpaksa menggadaikan keimanannya, menipu rekan sekantor, mendustai atasan dengan memanipulasi angka-angka, atau berbuat curang dibalik meja teman sekerja. Isteri dan anak-anaknya tak pernah tahu dan tak pernah bertanya dari mana uang yang didapat sang Ayah. Halalkah? Karena yang penting teredam sudah gundah hari itu. Teramat banyak para isteri dan anak-anak yang setia menunggu kepulangan Ayahnya, hingga larut yang ditunggu tak juga kembali. Sementara jauh disana, lelaki yang isteri dan anak-anaknya setia menunggu itu telah babak belur tak berkutik, hancur meregang nyawa, menahan sisa-sisa nafas terakhir setelah dihajar massa yang geram oleh aksi pencopetan yang dilakukannya. Sekali lagi, ada yang rela menanggung resiko ini demi segenggam gundah yang mesti ia tuntaskan.
Sungguh, di antara sekian banyak Ayah itu, saya teramat salut dengan sebagian Ayah lain yang tetap sabar menggenggam gundahnya, membawanya kembali ke rumah, menyertakannya dalam mimpi, mengadukannya dalam setiap sujud panjangnya di pertengahan malam, hingga membawanya kembali bersama pagi. Berharap ada rezeki yang Allah berikan hari itu,agar tuntas satu persatu gundah yang masih ia genggam. Ayah yang ini, masih percaya bahwa Allah takkan membiarkan hamba-Nya berada dalam kekufuran akibat gundah-gundah yang tak pernah usai.
Para Ayah ini, yang akan menyelesaikan semua gundahnya tanpa harus menciptakan gundah baru bagi keluarganya. Karena ia takkan menuntaskan gundahnya dengan tali gantungan, atau dengan tangan berlumur darah, atau berakhir di balik jeruji pengap, atau bahkan membiarkan seseorang tak dikenal membawa kabar buruk tentang dirinya yang hangus dibakar massa setelah tertangkap basah mencopet.
Dan saya, sebagai Ayah, akan tetap menggenggam gundah saya dengan senyum.
Saya yakin, Allah suka terhadap orang-orang yang tersenyum dan ringan melangkah di balik semua keluh dan gundahnya. Semoga.
============
Cobalah untuk sekedar bercermin, “AYAH SEPERTI APAKAH KITA?”
#lantai 9 di salah satu gedung di Jakarta
#seorangayah yang berusaha menjadi ayah terbaik bagi anak-anaknya
13 Desember 2010
Sumber :
Tulisan : Milis Pondok Aren
Gambar : hatiperantau.files.wordpress.com
3 bulan tak mampu memandang wajah suami
ehm…kenapa ya akhir-akhir ini kok aku makin mecintai-nya? lirih seorang suami dalam akun facebooknya, dia sampai menulis :
ternyata, di balik sifat pendiammu, engkau begitu rajin mengurus rumah dan anak-anak kita, belum lagi, ternyata kian hari, masakanmu kian cocok dengan seleraku, gimana ya? kok jadi makin cinta neh…(isi hati seorang suami)
sedang asyik-asyiknya mengenang masa-masa indah bersama istri, sang suami yang juga ayah ini mendapat kiriman email dari seorang ustadz di kota-nya. Sebuah email yang berisi tentang hubungan suami istri yang begitu menjadi cobaan bagi keduanya, moga kita Allah jadikan pasangan suami istri yang sakinah ma waddad dan war rahmah.
Berikut kisahnya :
Perkawinan itu telah berjalan empat (4) tahun, namun pasangan suami istri itu belum dikaruniai seorang anak. Dan mulailah kanan kiri berbisik-bisik: “kok belum punya anak juga ya, masalahnya di siapa ya? Suaminya atau istrinya ya?”. Dari berbisik-bisik, akhirnya menjadi berisik.
Tanpa sepengetahuan siapa pun, suami istri itu pergi ke salah seorang dokter untuk konsultasi, dan melakukan pemeriksaaan. Hasil lab mengatakan bahwa sang istri adalah seorang wanita yang mandul, sementara sang suami tidak ada masalah apa pun dan tidak ada harapan bagi sang istri untuk sembuh dalam arti tidak peluang baginya untuk hamil dan mempunyai anak.
Melihat hasil seperti itu, sang suami mengucapkan: inna lillahi wa inna ilaihi raji’un, lalu menyambungnya dengan ucapan: Alhamdulillah.
Sang suami seorang diri memasuki ruang dokter dengan membawa hasil lab dan sama sekali tidak memberitahu istrinya dan membiarkan sang istri menunggu di ruang tunggu perempuan yang terpisah dari kaum laki-laki.
Sang suami berkata kepada sang dokter: “Saya akan panggil istri saya untuk masuk ruangan, akan tetapi, tolong, nanti anda jelaskan kepada istri saya bahwa masalahnya ada di saya, sementara dia tidak ada masalah apa-apa.
Kontan saja sang dokter menolak dan terheran-heran. Akan tetapi sang suami terus memaksa sang dokter, akhirnya sang dokter setuju untuk mengatakan kepada sang istri bahwa masalah tidak datangnya keturunan ada pada sang suami dan bukan ada pada sang istri.
Sang suami memanggil sang istri yang telah lama menunggunya, dan tampak pada wajahnya kesedihan dan kemuraman. Lalu bersama sang istri ia memasuki ruang dokter. Maka sang dokter membuka amplop hasil lab, lalu membaca dan mentelaahnya, dan kemudian ia berkata: “… Oooh, kamu –wahai fulan- yang mandul, sementara istrimu tidak ada masalah, dan tidak ada harapan bagimu untuk sembuh.
Mendengar pengumuman sang dokter, sang suami berkata: inna lillahi wa inna ilaihi raji’un, dan terlihat pada raut wajahnya wajah seseorang yang menyerah kepada qadha dan qadar Allah SWT.
Lalu pasangan suami istri itu pulang ke rumahnya, dan secara perlahan namun pasti, tersebarlah berita tentang rahasia tersebut ke para tetangga, kerabat dan sanak saudara.
Lima (5) tahun berlalu dari peristiwa tersebut dan sepasang suami istri bersabar, sampai akhirnya datanglah detik-detik yang sangat menegangkan, di mana sang istri berkata kepada suaminya: “Wahai fulan, saya telah bersabar selama
Sembilan (9) tahun, saya tahan-tahan untuk bersabar dan tidak meminta cerai darimu, dan selama ini semua orang berkata:” betapa baik dan shalihah-nya sang istri itu yang terus setia mendampingi suaminya selama Sembilan tahun, padahal dia tahu kalau dari suaminya, ia tidak akan memperoleh keturunan”. Namun, sekarang rasanya saya sudah tidak bisa bersabar lagi, saya ingin agar engkau segera menceraikan saya, agar saya bisa menikah dengan lelaki lain dan mempunyai keturunan darinya, sehingga saya bisa melihat anak-anakku, menimangnya dan mengasuhnya.
Mendengar emosi sang istri yang memuncak, sang suami berkata: “istriku, ini cobaan dari Allah SWT, kita mesti bersabar, kita mesti …, mesti … dan mesti …”. Singkatnya, bagi sang istri, suaminya malah berceramah di hadapannya.
Akhirnya sang istri berkata: “OK, saya akan tahan kesabaranku satu tahun lagi, ingat, hanya satu tahun, tidak lebih”. Sang suami setuju, dan dalam dirinya, dipenuhi harapan besar, semoga Allah SWT memberi jalan keluar yang terbaik bagi keduanya.
Beberapa hari kemudian, tiba-tiba sang istri jatuh sakit, dan hasil lab mengatakan bahwa sang istri mengalami gagal ginjal. Mendengar keterangan tersebut, jatuhnya psikologis sang istri, dan mulailah memuncak emosinya. Ia berkata kepada suaminya: “Semua ini gara-gara kamu, selama ini aku menahan kesabaranku, dan jadilah sekarang aku seperti ini, kenapa selama ini kamu tidak segera menceraikan saya, saya kan ingin punya anak, saya ingin memomong dan menimang bayi, saya kan … saya kan …”. Sang istri pun bad rest di rumah sakit.
Di saat yang genting itu, tiba-tiba suaminya berkata: “Maaf, saya ada tugas keluar negeri, dan saya berharap semoga engkau baik-baik saja”. “Haah, pergi?”. Kata sang istri. “Ya, saya akan pergi karena tugas dan sekalian mencari donatur ginjal, semoga dapat”. Kata sang suami.
Sehari sebelum operasi, datanglah sang donatur ke tempat pembaringan sang istri. Maka disepakatilah bahwa besok akan dilakukan operasi pemasangan ginjal dari sang donatur.
Saat itu sang istri teringat suaminya yang pergi, ia berkata dalam dirinya: “Suami apa an dia itu, istrinya operasi, eh dia malah pergi meninggalkan diriku terkapar dalam ruang bedah operasi”.
Operasi berhasil dengan sangat baik. Setelah satu pekan, suaminya datang, dan tampaklah pada wajahnya tanda-tanda orang yang kelelahan.
Ketahuilah bahwa sang donatur itu tidak ada lain orang melainkan sang suami itu sendiri. Ya, suaminya telah menghibahkan satu ginjalnya untuk istrinya, tanpa sepengetahuan sang istri, tetangga dan siapa pun selain dokter yang dipesannya agar menutup rapat rahasia tersebut.
Dan subhanallah …
Setelah Sembilan (9) bulan dari operasi itu, sang istri melahirkan anak. Maka bergembiralah suami istri tersebut, keluarga besar dan para tetangga.
Suasana rumah tangga kembali normal, dan sang suami telah menyelesaikan studi S2 dan S3-nya di sebuah fakultas syari’ah dan telah bekerja sebagai seorang panitera di sebuah pengadilan di Jeddah. Ia pun telah menyelesaikan hafalan Al-Qur’an dan mendapatkan sanad dengan riwayat Hafs, dari ‘Ashim.
Pada suatu hari, sang suami ada tugas dinas jauh, dan ia lupa menyimpan buku hariannya dari atas meja, buku harian yang selama ini ia sembunyikan. Dan tanpa sengaja, sang istri mendapatkan buku harian tersebut, membuka-bukanya dan membacanya.
Hampir saja ia terjatuh pingsan saat menemukan rahasia tentang diri dan rumah tangganya. Ia menangis meraung-raung. Setelah agak reda, ia menelpon suaminya, dan menangis sejadi-jadinya, ia berkali-kali mengulang permohonan maaf dari suaminya. Sang suami hanya dapat membalas suara telpon istrinya dengan menangis pula.
Dan setelah peristiwa tersebut, selama tiga bulanan, sang istri tidak berani menatap wajah suaminya. Jika ada keperluan, ia berbicara dengan menundukkan mukanya, tidak ada kekuatan untuk memandangnya sama sekali.
(Diterjemahkan dari kisah yang dituturkan oleh teman tokoh cerita ini, yang kemudian ia tulis dalam email dan disebarkan kepada kawan-kawannya)
ternyata, di balik sifat pendiammu, engkau begitu rajin mengurus rumah dan anak-anak kita, belum lagi, ternyata kian hari, masakanmu kian cocok dengan seleraku, gimana ya? kok jadi makin cinta neh…(isi hati seorang suami)
sedang asyik-asyiknya mengenang masa-masa indah bersama istri, sang suami yang juga ayah ini mendapat kiriman email dari seorang ustadz di kota-nya. Sebuah email yang berisi tentang hubungan suami istri yang begitu menjadi cobaan bagi keduanya, moga kita Allah jadikan pasangan suami istri yang sakinah ma waddad dan war rahmah.
Berikut kisahnya :
Perkawinan itu telah berjalan empat (4) tahun, namun pasangan suami istri itu belum dikaruniai seorang anak. Dan mulailah kanan kiri berbisik-bisik: “kok belum punya anak juga ya, masalahnya di siapa ya? Suaminya atau istrinya ya?”. Dari berbisik-bisik, akhirnya menjadi berisik.
Tanpa sepengetahuan siapa pun, suami istri itu pergi ke salah seorang dokter untuk konsultasi, dan melakukan pemeriksaaan. Hasil lab mengatakan bahwa sang istri adalah seorang wanita yang mandul, sementara sang suami tidak ada masalah apa pun dan tidak ada harapan bagi sang istri untuk sembuh dalam arti tidak peluang baginya untuk hamil dan mempunyai anak.
Melihat hasil seperti itu, sang suami mengucapkan: inna lillahi wa inna ilaihi raji’un, lalu menyambungnya dengan ucapan: Alhamdulillah.
Sang suami seorang diri memasuki ruang dokter dengan membawa hasil lab dan sama sekali tidak memberitahu istrinya dan membiarkan sang istri menunggu di ruang tunggu perempuan yang terpisah dari kaum laki-laki.
Sang suami berkata kepada sang dokter: “Saya akan panggil istri saya untuk masuk ruangan, akan tetapi, tolong, nanti anda jelaskan kepada istri saya bahwa masalahnya ada di saya, sementara dia tidak ada masalah apa-apa.
Kontan saja sang dokter menolak dan terheran-heran. Akan tetapi sang suami terus memaksa sang dokter, akhirnya sang dokter setuju untuk mengatakan kepada sang istri bahwa masalah tidak datangnya keturunan ada pada sang suami dan bukan ada pada sang istri.
Sang suami memanggil sang istri yang telah lama menunggunya, dan tampak pada wajahnya kesedihan dan kemuraman. Lalu bersama sang istri ia memasuki ruang dokter. Maka sang dokter membuka amplop hasil lab, lalu membaca dan mentelaahnya, dan kemudian ia berkata: “… Oooh, kamu –wahai fulan- yang mandul, sementara istrimu tidak ada masalah, dan tidak ada harapan bagimu untuk sembuh.
Mendengar pengumuman sang dokter, sang suami berkata: inna lillahi wa inna ilaihi raji’un, dan terlihat pada raut wajahnya wajah seseorang yang menyerah kepada qadha dan qadar Allah SWT.
Lalu pasangan suami istri itu pulang ke rumahnya, dan secara perlahan namun pasti, tersebarlah berita tentang rahasia tersebut ke para tetangga, kerabat dan sanak saudara.
Lima (5) tahun berlalu dari peristiwa tersebut dan sepasang suami istri bersabar, sampai akhirnya datanglah detik-detik yang sangat menegangkan, di mana sang istri berkata kepada suaminya: “Wahai fulan, saya telah bersabar selama
Sembilan (9) tahun, saya tahan-tahan untuk bersabar dan tidak meminta cerai darimu, dan selama ini semua orang berkata:” betapa baik dan shalihah-nya sang istri itu yang terus setia mendampingi suaminya selama Sembilan tahun, padahal dia tahu kalau dari suaminya, ia tidak akan memperoleh keturunan”. Namun, sekarang rasanya saya sudah tidak bisa bersabar lagi, saya ingin agar engkau segera menceraikan saya, agar saya bisa menikah dengan lelaki lain dan mempunyai keturunan darinya, sehingga saya bisa melihat anak-anakku, menimangnya dan mengasuhnya.
Mendengar emosi sang istri yang memuncak, sang suami berkata: “istriku, ini cobaan dari Allah SWT, kita mesti bersabar, kita mesti …, mesti … dan mesti …”. Singkatnya, bagi sang istri, suaminya malah berceramah di hadapannya.
Akhirnya sang istri berkata: “OK, saya akan tahan kesabaranku satu tahun lagi, ingat, hanya satu tahun, tidak lebih”. Sang suami setuju, dan dalam dirinya, dipenuhi harapan besar, semoga Allah SWT memberi jalan keluar yang terbaik bagi keduanya.
Beberapa hari kemudian, tiba-tiba sang istri jatuh sakit, dan hasil lab mengatakan bahwa sang istri mengalami gagal ginjal. Mendengar keterangan tersebut, jatuhnya psikologis sang istri, dan mulailah memuncak emosinya. Ia berkata kepada suaminya: “Semua ini gara-gara kamu, selama ini aku menahan kesabaranku, dan jadilah sekarang aku seperti ini, kenapa selama ini kamu tidak segera menceraikan saya, saya kan ingin punya anak, saya ingin memomong dan menimang bayi, saya kan … saya kan …”. Sang istri pun bad rest di rumah sakit.
Di saat yang genting itu, tiba-tiba suaminya berkata: “Maaf, saya ada tugas keluar negeri, dan saya berharap semoga engkau baik-baik saja”. “Haah, pergi?”. Kata sang istri. “Ya, saya akan pergi karena tugas dan sekalian mencari donatur ginjal, semoga dapat”. Kata sang suami.
Sehari sebelum operasi, datanglah sang donatur ke tempat pembaringan sang istri. Maka disepakatilah bahwa besok akan dilakukan operasi pemasangan ginjal dari sang donatur.
Saat itu sang istri teringat suaminya yang pergi, ia berkata dalam dirinya: “Suami apa an dia itu, istrinya operasi, eh dia malah pergi meninggalkan diriku terkapar dalam ruang bedah operasi”.
Operasi berhasil dengan sangat baik. Setelah satu pekan, suaminya datang, dan tampaklah pada wajahnya tanda-tanda orang yang kelelahan.
Ketahuilah bahwa sang donatur itu tidak ada lain orang melainkan sang suami itu sendiri. Ya, suaminya telah menghibahkan satu ginjalnya untuk istrinya, tanpa sepengetahuan sang istri, tetangga dan siapa pun selain dokter yang dipesannya agar menutup rapat rahasia tersebut.
Dan subhanallah …
Setelah Sembilan (9) bulan dari operasi itu, sang istri melahirkan anak. Maka bergembiralah suami istri tersebut, keluarga besar dan para tetangga.
Suasana rumah tangga kembali normal, dan sang suami telah menyelesaikan studi S2 dan S3-nya di sebuah fakultas syari’ah dan telah bekerja sebagai seorang panitera di sebuah pengadilan di Jeddah. Ia pun telah menyelesaikan hafalan Al-Qur’an dan mendapatkan sanad dengan riwayat Hafs, dari ‘Ashim.
Pada suatu hari, sang suami ada tugas dinas jauh, dan ia lupa menyimpan buku hariannya dari atas meja, buku harian yang selama ini ia sembunyikan. Dan tanpa sengaja, sang istri mendapatkan buku harian tersebut, membuka-bukanya dan membacanya.
Hampir saja ia terjatuh pingsan saat menemukan rahasia tentang diri dan rumah tangganya. Ia menangis meraung-raung. Setelah agak reda, ia menelpon suaminya, dan menangis sejadi-jadinya, ia berkali-kali mengulang permohonan maaf dari suaminya. Sang suami hanya dapat membalas suara telpon istrinya dengan menangis pula.
Dan setelah peristiwa tersebut, selama tiga bulanan, sang istri tidak berani menatap wajah suaminya. Jika ada keperluan, ia berbicara dengan menundukkan mukanya, tidak ada kekuatan untuk memandangnya sama sekali.
(Diterjemahkan dari kisah yang dituturkan oleh teman tokoh cerita ini, yang kemudian ia tulis dalam email dan disebarkan kepada kawan-kawannya)
cerita makan siang
Nyambung pembahasan tentang perbincangan alutsista, saya jadi mau iktu nimbrung nich. Kebetulan tadi pas break konsiyering riset RSN-DRPM UI, saya dan salah seorang rekan satu tim riset ngobrol-ngobrol tentang teknologi pesawat. Kebetulan rekan saya ini adalah salah satu founder sekaligus investor PT. Aviator Teknologi Indonesia, sebuah perusahaan produsen UAV (Unmanned Aerial Vehicle) yang cukup produktif di Indonesia.
Ceritanya waktu tahun 2006, dia pernah ikut konferensi UAF internasional di Singapore. Di sela-sela acara, para peserta yang sebagian besar adalah peneliti dan pebisnis UAV ini saling sharing dan bertukar cerita. Lazimnya orang Asia, maka teman saya ini pun ikut nimbrung pula dengan saudara-saudaranya serumpun.
Ditengah pembicaraan bertanyalah temannya dari Singapore, “Anda dari mana? Oh saya dari Indonesia”. Salah seorang peserta dari Malaysia bertanya “memang di Indonesia ada (teknologi UAV)?”. Saat itu 100% dia yakin kalau pertanyaan itu dibumbui rasa ketidakpercayaan (underestimate) kalau Indonesia bisa mengembangankan teknologi UAV. Lalu dengan santun ia menjawab, “jumlah pastinya saya kurang tahu tapi saya mewakili perusahaan saya” (at lease ada satu-lah di Indonesia). Lalu dia pun bertanya balik, “Kalau anda sendiri sudah sejauh apa perkembangannya?”. Lalu si orang Singapore dengan banggga mengatakan “perusahaan kita sudah menyelesaikan blue print, selanjutnya kita akan membuat UAV dalam waktu dekat”. Si orang Malaysia pun tidak ketinggalan “kami masih membahas, tahun ini direncanakan akan selesai blue print-nya dan sesegera mungkin akan kita buat”. Kemudian orang Singapore pun kembali bertanya, “bagaimana dengan anda?”. Dengan tersenyum ia menjawab “Pesawat UAV kami sudah terbang 100 jam”…. Krik..krik..krik:D tersenyum lebar
Singkat cerita pasca konferensi dia langsung di “dekati” oleh si orang Malaysia dan Singapore tersebut pada waktu dan tempat yang berbeda namun dengan pertanyaan yang sama. “maukah anda bergabung dengan perusahaan kami?”….. hadeeehh ~.~
Nah, Nyambung soal diatas, berikut saya lampirin tulisan menarik dari seorang blogger http://ineztianty.multiply.com/, tentang PT. Aviator.
UAV atau Unmanned Aerial Vehicle di Indonesia mulai dkaji dan dikembangkan sekitar 1990-an. Banyak pihak saat ini mengembangkannya, baik perusahaan swasta, bumn, maupun lembaga pemerintah seperti BPPT, Balitbang Dephan, dan Litbang2 ditingkat Angkatan. Penamaannya juga berbeda-beda. Dephan menyebutnya Pesawat Terbang Tanpa Awak (PTTA), BPPT menyebutnya PUNA (Pesawat Udara Nir Awak).
Salah satu perusahaan swasta yang mengembangkan UAV ini adalah PT. Aviator yang berdiri sejak tahun 2005. Dengan inisiatif sendiri (bukan karena project dari pemerintah) mereka mengembangkan UAV yang diberi nama Smart Eagle series, Smart Eagle 1 dan 2. Smart Eagle 2 payloadnya 25 kg, bentang sayap 4.8 m. Smart Eagle 1 lebih kecil, scale down 50%, untuk training.
Sementara BPPT mengembangkan PUNA yang diberi nama Wulung. Mereka sudah mengembangkan sejak tahun 2000 dengan berganti-ganti partner, dengan PT. DI dan bebeapa universitas, namun tingkat keberhasilannya rendah. Tahun 2006 BPPT bertemu dengan PT. Aviator dan menjalin kerjasama untuk pengembangan PUNA Wulung ini. Dan ternyata setelah bekerjasama dengan PT. Aviator keberhasilannya jauh melonjak. Sekarang prototype UAV nya sudah plus avionik systemnnya, controlnya, ground control systemnya, jadi sudah complete systemnya. Sebelum-sebelumnya belum pernah sampai sana, terbangnya juga masih susah.
Perjalanan kerjasama ini lengkapnya begini :
2006 : airframe, avionic : censor placement , telemetri
Hasilnya: 1 konfigurasi pesawat
Tingkat keberhasilan dalam flight test : 98%
2007 : autopilot system, surveillance system
Hasil : 2 konfigurasi baru
Tingkat keberhasilan dalam flight test : 98%
Planning in 2008 :
Technology : thermal imaging
Fligh test : kemampuan menyelesaikan 1 misi
Target : 2010 Puna ini sudah benar-benar matang teknologinya.
Total dana untuk pengembangan dalam 2 tahun sebesar Rp. 9 Milliar
Sebagai perbandingan :
Malaysia mengembangkan UAV dengan ukuran yang sedikit lebih besar, dengan dana Rp. 16 Milliar hanya untuk pembuatan 1 airframe tanpa avionic system, manual dalam waktu 1 tahun.
Menurut PT. Aviator mereka bisa lakukan itu dalam 2 bulan.
Dalam hal harga, berikut perbandingannya :
PT. Aviator : US$ 3 juta (4 airframe full system+1 airframe only)
USA : US$ 10 juta (4 airframe full system)
Israel : US$ 6 million (1 airframe full system)
Ceritanya waktu tahun 2006, dia pernah ikut konferensi UAF internasional di Singapore. Di sela-sela acara, para peserta yang sebagian besar adalah peneliti dan pebisnis UAV ini saling sharing dan bertukar cerita. Lazimnya orang Asia, maka teman saya ini pun ikut nimbrung pula dengan saudara-saudaranya serumpun.
Ditengah pembicaraan bertanyalah temannya dari Singapore, “Anda dari mana? Oh saya dari Indonesia”. Salah seorang peserta dari Malaysia bertanya “memang di Indonesia ada (teknologi UAV)?”. Saat itu 100% dia yakin kalau pertanyaan itu dibumbui rasa ketidakpercayaan (underestimate) kalau Indonesia bisa mengembangankan teknologi UAV. Lalu dengan santun ia menjawab, “jumlah pastinya saya kurang tahu tapi saya mewakili perusahaan saya” (at lease ada satu-lah di Indonesia). Lalu dia pun bertanya balik, “Kalau anda sendiri sudah sejauh apa perkembangannya?”. Lalu si orang Singapore dengan banggga mengatakan “perusahaan kita sudah menyelesaikan blue print, selanjutnya kita akan membuat UAV dalam waktu dekat”. Si orang Malaysia pun tidak ketinggalan “kami masih membahas, tahun ini direncanakan akan selesai blue print-nya dan sesegera mungkin akan kita buat”. Kemudian orang Singapore pun kembali bertanya, “bagaimana dengan anda?”. Dengan tersenyum ia menjawab “Pesawat UAV kami sudah terbang 100 jam”…. Krik..krik..krik:D tersenyum lebar
Singkat cerita pasca konferensi dia langsung di “dekati” oleh si orang Malaysia dan Singapore tersebut pada waktu dan tempat yang berbeda namun dengan pertanyaan yang sama. “maukah anda bergabung dengan perusahaan kami?”….. hadeeehh ~.~
Nah, Nyambung soal diatas, berikut saya lampirin tulisan menarik dari seorang blogger http://ineztianty.multiply.com/, tentang PT. Aviator.
UAV atau Unmanned Aerial Vehicle di Indonesia mulai dkaji dan dikembangkan sekitar 1990-an. Banyak pihak saat ini mengembangkannya, baik perusahaan swasta, bumn, maupun lembaga pemerintah seperti BPPT, Balitbang Dephan, dan Litbang2 ditingkat Angkatan. Penamaannya juga berbeda-beda. Dephan menyebutnya Pesawat Terbang Tanpa Awak (PTTA), BPPT menyebutnya PUNA (Pesawat Udara Nir Awak).
Salah satu perusahaan swasta yang mengembangkan UAV ini adalah PT. Aviator yang berdiri sejak tahun 2005. Dengan inisiatif sendiri (bukan karena project dari pemerintah) mereka mengembangkan UAV yang diberi nama Smart Eagle series, Smart Eagle 1 dan 2. Smart Eagle 2 payloadnya 25 kg, bentang sayap 4.8 m. Smart Eagle 1 lebih kecil, scale down 50%, untuk training.
Sementara BPPT mengembangkan PUNA yang diberi nama Wulung. Mereka sudah mengembangkan sejak tahun 2000 dengan berganti-ganti partner, dengan PT. DI dan bebeapa universitas, namun tingkat keberhasilannya rendah. Tahun 2006 BPPT bertemu dengan PT. Aviator dan menjalin kerjasama untuk pengembangan PUNA Wulung ini. Dan ternyata setelah bekerjasama dengan PT. Aviator keberhasilannya jauh melonjak. Sekarang prototype UAV nya sudah plus avionik systemnnya, controlnya, ground control systemnya, jadi sudah complete systemnya. Sebelum-sebelumnya belum pernah sampai sana, terbangnya juga masih susah.
Perjalanan kerjasama ini lengkapnya begini :
2006 : airframe, avionic : censor placement , telemetri
Hasilnya: 1 konfigurasi pesawat
Tingkat keberhasilan dalam flight test : 98%
2007 : autopilot system, surveillance system
Hasil : 2 konfigurasi baru
Tingkat keberhasilan dalam flight test : 98%
Planning in 2008 :
Technology : thermal imaging
Fligh test : kemampuan menyelesaikan 1 misi
Target : 2010 Puna ini sudah benar-benar matang teknologinya.
Total dana untuk pengembangan dalam 2 tahun sebesar Rp. 9 Milliar
Sebagai perbandingan :
Malaysia mengembangkan UAV dengan ukuran yang sedikit lebih besar, dengan dana Rp. 16 Milliar hanya untuk pembuatan 1 airframe tanpa avionic system, manual dalam waktu 1 tahun.
Menurut PT. Aviator mereka bisa lakukan itu dalam 2 bulan.
Dalam hal harga, berikut perbandingannya :
PT. Aviator : US$ 3 juta (4 airframe full system+1 airframe only)
USA : US$ 10 juta (4 airframe full system)
Israel : US$ 6 million (1 airframe full system)
Minggu, 13 Maret 2011
bisa merasa...
Banyak orang yang mengekspresikan kehidupan dengan citra dan perspektifnya masing-masing, demikian halnya denganku. Dimataku perjuangan memperjuangkan hidup ibarat kita hendak menyebrangi lautan luas dengan keseluruhan probalitas alam yang menelengkupinya. Adalah pulau nun jauh diseberang yang menjadi tempat tujuan berlabuh merupakan sebuah mimpi yang ingin direalisasikan maka kita butuh sesuatu yang membuat kita mengapung diatas permukaan sang air dan sesuatu pula yang mampu membuat kita melaju ke arah tujuan. Aku tidak akan mendefinisikan secara rinci apa sesuatu itu sebab setiap orang bebas memilih dan memiliki konsepsi dari apa yang ia anggap itu sebagai sesuatu. Namun satu hal bahwa sesuatu itu adalah kebutuhan primordial yang kita butuhkan dalam meyusuri lorong-lorong perjuangan hidup.
Waktu, ya inilah satu alasan logis yang menjadi sandaran mengapa sesuatu itu menjadi milik kebebasan sang pejuang. Waktu pula yang menyimpan sejumput asa dan harapan dalam dimensi ruang kehidupan. Begitu mempesonanya sang waktu hingga ia mampu menjawab hal-hal yang tidak pernah kita duga dalam rancangan kehidupan ini. Namun, sungguh pun waktu tak lebih dari sebuah wahana untuk memahami arti kehidupan dan makna memperjuangkannya. Dalam peristiwa terwujudnya mimpi maka waktu mampu dengan cepat mewujudkannya atau sebaliknya menjadi lambat dan menyesatkan mereka yang terjebak dalam permainan sang waktu. Cepat bagi mereka yang segera menyadari dan ikhlas mengakui keterbatasan sambil bergegas melakukan rekonstruksi diri atasnya. Sebaliknya waktu pun akan terasa lambat bagi mereka yang tidak pernah sadar bahkan tidak mau mengakui kekurangan seraya merasa tak perlu ada yang dirubah dari dirinya because the others of me is nothing.
Kemapanan finansial, status, perkerjaan, fisik, hingga intelektualitas seringkali membuat kita lupa bahwa kita selalu membutuhkan susatu dari luar diri kita. Bahkan kemapanan-kemapanan itu pun adalah sebuah keradadaan yang diadakan bukan karena telah berada dengan sendirnya. Janganlah kita menjadi seongok daging yang memungkiri takdir bahwa kita tidak membutuhkan orang lain. Sungguh merekalah yang akan membantu kita mendefinisikan “sesuatu” itu. Dengan begitu kita dapat merengkuh pulau yang ingin kita tuju dengan berpandu pada waktu yang telah kita ukur. Maka bagiku merasa bisa belumlah cukup sebab ia-nya hanyalah akhir dari simpulan tatkala kita bisa merasa. Merasakan orang lain hidup di sekitar kita…
*tulisan ini adalah ungkapan terimakasih pada meraka yang telah mengajarkanku tentang nilai sebuah rasa.. -Depok, 14 Maret 2011-
Waktu, ya inilah satu alasan logis yang menjadi sandaran mengapa sesuatu itu menjadi milik kebebasan sang pejuang. Waktu pula yang menyimpan sejumput asa dan harapan dalam dimensi ruang kehidupan. Begitu mempesonanya sang waktu hingga ia mampu menjawab hal-hal yang tidak pernah kita duga dalam rancangan kehidupan ini. Namun, sungguh pun waktu tak lebih dari sebuah wahana untuk memahami arti kehidupan dan makna memperjuangkannya. Dalam peristiwa terwujudnya mimpi maka waktu mampu dengan cepat mewujudkannya atau sebaliknya menjadi lambat dan menyesatkan mereka yang terjebak dalam permainan sang waktu. Cepat bagi mereka yang segera menyadari dan ikhlas mengakui keterbatasan sambil bergegas melakukan rekonstruksi diri atasnya. Sebaliknya waktu pun akan terasa lambat bagi mereka yang tidak pernah sadar bahkan tidak mau mengakui kekurangan seraya merasa tak perlu ada yang dirubah dari dirinya because the others of me is nothing.
Kemapanan finansial, status, perkerjaan, fisik, hingga intelektualitas seringkali membuat kita lupa bahwa kita selalu membutuhkan susatu dari luar diri kita. Bahkan kemapanan-kemapanan itu pun adalah sebuah keradadaan yang diadakan bukan karena telah berada dengan sendirnya. Janganlah kita menjadi seongok daging yang memungkiri takdir bahwa kita tidak membutuhkan orang lain. Sungguh merekalah yang akan membantu kita mendefinisikan “sesuatu” itu. Dengan begitu kita dapat merengkuh pulau yang ingin kita tuju dengan berpandu pada waktu yang telah kita ukur. Maka bagiku merasa bisa belumlah cukup sebab ia-nya hanyalah akhir dari simpulan tatkala kita bisa merasa. Merasakan orang lain hidup di sekitar kita…
*tulisan ini adalah ungkapan terimakasih pada meraka yang telah mengajarkanku tentang nilai sebuah rasa.. -Depok, 14 Maret 2011-
Langganan:
Postingan (Atom)